Breaking News

Tukang Tahu Tempe Keliling Keluhkan Penurunan Omzet Usai Program MBG, Harap Ada Solusi Berkeadilan

Foto Déco wawancara dengan pedagang tahu tempe keliling di Kalapanunggal (13/2) 

SUKABUMIVIRAL.COM – Seorang pedagang tahu dan tempe keliling, Pak Entay, warga Kampung Makasari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, mengeluhkan penurunan omzet penjualannya dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut, kondisi tersebut terjadi setelah adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini berjalan di sejumlah sekolah.

Saat ditemui SUKABUMIVIRAL.COM di sebuah warung kopi di Palasari, Jumat (13/2/2025), Pak Entay menuturkan bahwa sebelumnya ia mampu menjual tahu dan tempe antara 1.500 hingga 2.000 potong per hari. Namun kini, penjualannya menurun cukup signifikan.

Foto Bapak Entay (Pedangang tahu tempe keliling) Déco,13/2

“Biasanya per hari saya habiskan 1.500 sampai 2.000. Sekarang paling banyak 1.000 sampai 1.200,” ungkapnya.

Menurutnya, sebagian pelanggan tetapnya yang merupakan penyedia katering di sekolah-sekolah memilih berhenti berlangganan. Hal tersebut, kata dia, karena kebutuhan bahan baku untuk program MBG diperoleh langsung dari pabrik dengan harga yang dinilai lebih murah.

“MBG kan ambil langsung ke pabrik, enggak ambil ke saya. Katanya karena harga buat MBG memang beda, jauh lebih murah dibanding harga saya selaku pedagang keliling,” jelasnya.

Meski demikian, Pak Entay tetap bersyukur karena masih bisa berjualan dan melayani pelanggan setianya. Setiap hari ia berkeliling dari wilayah Bojonggenteng hingga Kalapanunggal. Ia hanya mengambil waktu libur setiap hari Sabtu.

“Alhamdulillah saya tetap jalan tiap hari, melayani pelanggan dari Bojonggenteng sampai Kalapanunggal. Sabtu saya libur,” tuturnya dengan semangat.

Perlu Solusi Kolaboratif

Program MBG pada dasarnya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah. Namun, di sisi lain, dinamika di lapangan menunjukkan adanya dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil, khususnya pedagang keliling yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok lokal.

Pengamat ekonomi kerakyatan menilai, perlu adanya pola kolaborasi agar program pemerintah tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha mikro. Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah pelibatan pedagang lokal dalam rantai distribusi atau kemitraan berbasis wilayah.

Kisah Pak Entay menjadi gambaran bahwa kebijakan publik seringkali memiliki dampak multidimensi. Diperlukan komunikasi dan sinergi antara pelaksana program, pelaku usaha, dan pemerintah daerah agar manfaat program dapat dirasakan lebih merata.

Di tengah tantangan tersebut, semangat Pak Entay yang tetap berjualan setiap hari menjadi inspirasi tentang ketekunan dan daya juang pelaku usaha kecil di Sukabumi. (Dedi Cobra) 

📰 SUKABUMIVIRAL.COM – Berita Terkini, Cepat, dan Terpercaya dari Sukabumi untuk Indonesia

© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA