SUKABUMIVIRAL.COM – Curah hujan tinggi kembali membuka borok lemahnya sistem tata lingkungan di wilayah permukiman Kabupaten Sukabumi. Kali ini, bencana tanah longsor terjadi di kawasan Perum Griya Bojongkokosan Asri, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.

Material tanah ambles di area dekat permukiman warga usai hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama beberapa jam. Warga menilai longsor bukan semata akibat faktor alam, melainkan juga dipicu buruknya sistem drainase yang selama ini dikeluhkan namun diduga tidak pernah ditangani secara serius.

Kepanikan sempat terjadi ketika tanah di sekitar tebing tiba-tiba bergerak dan longsor. Sejumlah warga langsung berhamburan keluar rumah khawatir terjadi longsor susulan yang dapat mengancam keselamatan penghuni perumahan.

Awalnya terdengar suara gemuruh kecil, lalu tanah langsung amblas. Warga langsung keluar rumah karena takut longsor semakin besar,” ungkap Ujang, salah seorang penghuni perumahan yang rumahnya berada tepat di samping lokasi kejadian.

Menurut warga, saluran drainase di lingkungan tersebut sudah lama bermasalah. Saat hujan deras turun, air kerap meluap karena kapasitas saluran dinilai terlalu kecil dan minim perawatan. Kondisi itu membuat air terus menggerus struktur tanah hingga akhirnya menyebabkan longsor.

Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa persoalan infrastruktur dasar di kawasan permukiman masih menjadi ancaman serius. Di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem, buruknya drainase bukan lagi sekadar persoalan teknis, tetapi berpotensi menjadi pemicu bencana yang mengancam keselamatan warga.

Beruntung dalam kejadian ini tidak terdapat korban jiwa. Namun warga mengaku trauma dan dihantui kekhawatiran setiap kali hujan deras turun karena kondisi tanah di sekitar titik longsor masih labil dan rawan mengalami pergerakan lanjutan.

Sejumlah warga terlihat berjaga di sekitar lokasi sambil memantau kemungkinan longsor susulan. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersama instansi terkait agar tidak hanya datang melakukan pendataan, tetapi segera mengambil langkah konkret penanganan darurat.

Warga meminta dilakukan normalisasi saluran air, pembangunan tembok penahan tanah (TPT), hingga kajian teknis menyeluruh terhadap struktur tanah di kawasan perumahan tersebut. Jika dibiarkan tanpa penanganan serius, longsor dikhawatirkan meluas dan mengancam rumah-rumah lain di sekitar lokasi.

Peristiwa ini kembali menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pengembang perumahan agar tidak mengabaikan aspek tata ruang, sistem drainase, serta mitigasi bencana dalam pembangunan kawasan hunian. Sebab ketika hujan ekstrem datang, kelalaian terhadap infrastruktur lingkungan bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. 

Redaktur : Usep Suherman