Breaking News

Remaja 15 Tahun Meninggal di IGD, Diduga Tersandera Buruknya Sistem Rujukan RS di Sukabumi

SUKABUMIVIRAL.COM – Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Sukabumi. Thasya Alfin Yani (15), remaja yang didiagnosa menderita penyakit lambung kronis (digestif), menghembuskan napas terakhir di ruang IGD RS Bhakti Medicare, Cicurug, Sabtu (18/4) jelang tengah malam—setelah diduga “tersandera” berjam-jam oleh mandeknya sistem rujukan antar rumah sakit.

Dalam kondisi kritis hingga koma, Thasya tidak segera mendapatkan penanganan lanjutan karena harus menunggu kepastian ketersediaan ruang dan dokter spesialis di rumah sakit rujukan. Ironisnya, penantian itu berlangsung nyaris 12 jam, tanpa kejelasan.

Keterangan dari pihak IGD menyebutkan bahwa proses rujukan telah dilakukan ke sejumlah rumah sakit di Sukabumi dan Bogor. Namun, alasan klasik kembali muncul: kamar penuh dan keterbatasan dokter spesialis digestif, khususnya untuk pasien anak.

"Data pasien sudah dikirim ke RS Sukabumi dan Bogor. Yang ada spesialis digestif itu di Bunut dan Hermina, tapi jawabannya masih penuh. Memang cukup sulit, apalagi spesialis digestif anak," ungkap pihak IGD kepada keluarga.

Pihak Humas RS Bhakti Medicare juga menyatakan bahwa koordinasi telah dilakukan sesuai prosedur. Namun fakta di lapangan menunjukkan, koordinasi tersebut tidak berbuah solusi konkret dalam kondisi darurat yang berpacu dengan waktu.

Keluarga korban menilai, penanganan ini sarat kelambanan dan minim inisiatif. Mereka mempertanyakan apakah rumah sakit hanya sebatas mengirim dokumen tanpa upaya aktif memastikan pasien benar-benar diterima.

"Kami ini orang awam, hanya bisa menunggu. Tapi apakah cukup hanya kirim data? Harusnya ada upaya lebih, telepon langsung, pastikan pasien diterima. Masa iya semua rumah sakit penuh? Atau karena kami masyarakat kecil jadi tidak diprioritaskan?" ungkap pihak keluarga dengan nada kecewa.

Kematian Thasya memunculkan pertanyaan serius terhadap efektivitas sistem rujukan medis di wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Apakah prosedur birokrasi telah mengalahkan urgensi keselamatan nyawa pasien?

Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah pejabat daerah—termasuk Ketua DPRD, Sekretaris Daerah, dan Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi yang telah diinformasikan sejak malam kejadian, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan. Sikap diam ini semakin mempertegas kesan lambannya respon terhadap krisis pelayanan kesehatan.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi sistem layanan kesehatan daerah. Nyawa seorang remaja melayang bukan semata karena penyakit, tetapi diduga akibat tersendatnya rantai koordinasi dan minimnya kesiapsiagaan fasilitas medis rujukan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terulang. ( Red/ Joy
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA