Salah seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa bantuan sembako tersebut awalnya diharapkan menjadi bentuk perhatian dari buyer menjelang akhir bulan Ramadan. Namun, kenyataannya justru menimbulkan kekecewaan..
“Setelah dicek, beras yang dibagikan ternyata tidak layak untuk dikonsumsi. Kondisinya sangat memprihatinkan,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (01/04/2026)
Menurutnya, pembagian sembako tersebut merupakan bagian dari program yang nilainya cukup besar, belum tahu berapa mereka menerima anggaran bonus tersebut untuk 9000 orang karyawan, Namun, kualitas barang yang diterima karyawan dinilai tidak layak untuk di konsumsi.Awalnya, lanjut dia, terdapat wacana bahwa bantuan akan diberikan dalam bentuk uang sebesar Rp100 ribu setiap karyawan. Namun, pihak panitia bersikeras agar bantuan disalurkan dalam bentuk sembako, yakni beras dan minyak goreng.
“Katanya mau dibagikan uang, tapi akhirnya diputuskan dalam bentuk sembako oleh panitia. Tapi hasilnya seperti ini, berasnya tidak layak. Banyak karyawan yang mempertanyakan,” tambahnya.
Ia juga menyebut bahwa sejumlah karyawan mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran bantuan tersebut, termasuk peran panitia penyelenggara yang diketuai oleh salah satu pengurus SPSI.
“Dengan nilai anggaran yang besar, seharusnya kualitas yang diberikan juga baik. Ini malah sebaliknya. Kami berharap ada penjelasan terbuka dari pihak terkait,” tegasnya.
Para karyawan berharap pihak perusahaan maupun komite atau panitia dapat segera memberikan klarifikasi serta melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. Sukabumiviral.com akan berupaya untuk meminta konfirmasi dari pihak panitia. (Red/ Us)

Social Header