Breaking News

Dari Fanatisme Menuju Radikalisme: Ketika Dukungan Sepak Bola Berubah Menjadi Ancaman Persatuan

SUKABUMIVIRAL.COM – Fanatisme merupakan sikap keyakinan yang berlebihan, membabi buta, dan mutlak terhadap suatu pandangan atau kelompok tertentu, termasuk dalam mendukung olahraga sepak bola. 

Pada batas tertentu, fanatisme memang dianggap sebagai bentuk loyalitas dan kecintaan terhadap klub atau komunitas. Namun, ketika rasa cinta itu berubah menjadi kebencian terhadap pihak lain, maka fanatisme dapat berkembang menjadi bibit radikalisme sosial.

Aktivis Pergerakan Cicurug JA Soebagyo menyampaikan,bahwa dalam dunia sepak bola contohnya, fanatisme kerap memunculkan sikap saling menghina, permusuhan antar suporter, hingga aksi kekerasan yang merugikan banyak pihak. Perbedaan dukungan terhadap klub sering kali dibawa ke ranah suku, daerah, bahkan identitas kelompok tertentu yang akhirnya memicu konflik horizontal di tengah masyarakat.
"Fenomena ini menjadi perhatian serius karena fanatisme yang tidak terkendali dapat melahirkan ego berlebihan, rasa paling benar, dan sikap intoleran terhadap perbedaan. Akibatnya, persatuan dan solidaritas sosial perlahan terkikis hanya karena perbedaan pilihan dalam mendukung sebuah tim sepak bola,"ujarnya Senin ( 11/05/2026).

Menurutnua, bahwa tidak sedikit kasus bentrokan antar suporter yang berujung korban jiwa, perusakan fasilitas umum, hingga keresahan masyarakat. 

"Padahal sejatinya olahraga hadir sebagai sarana hiburan, pemersatu, dan media untuk menjunjung tinggi sportivitas," tegasnya. 

Lanjut Soebagyo, bahwa fanatisme yang tumbuh tanpa edukasi dan pengendalian emosi dapat berkembang menjadi radikalisme dalam bentuk kebencian kelompok. 

" Ketika seseorang tidak lagi mampu menerima perbedaan dan menganggap kelompoknya paling unggul, maka di situlah bibit perpecahan mulai tumbuh," ungkapnya. 

Pihaknya berharap, khususnya buat generasi muda, diharapkan mampu membedakan antara loyalitas dan fanatisme berlebihan. Mendukung klub sepak bola merupakan hak setiap individu, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk menebar kebencian, permusuhan, maupun tindakan anarkis.

"Sepak bola seharusnya menjadi ruang persaudaraan lintas suku, daerah, dan budaya. Rivalitas cukup berlangsung di lapangan, bukan di jalanan apalagi sampai memecah persatuan bangsa," pungkasnya. 

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA