SUKABUMIVIRAL.COM – Antusiasme masyarakat untuk masuk ke SMA Negeri 1 Cicurug pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 kembali membludak. Dari total 1.032 calon murid yang mendaftar, hanya 504 siswa yang dapat diterima sesuai kuota sekolah.
Wakil Kepala SMA Negeri 1 Cicurug, Nurjaka, menegaskan bahwa seluruh proses penerimaan peserta didik dilakukan melalui sistem digital yang terintegrasi, sehingga pihak sekolah tidak memiliki kewenangan menentukan siapa yang diterima maupun ditolak.
"Yang menentukan bukan sekolah, tetapi sistem. Sekolah hanya melakukan verifikasi data yang diunggah oleh calon murid," ujar Nurjaka saat memberikan penjelasan terkait mekanisme SPMB, senin (15/06/2026)
Menurutnya, tahap awal penerimaan dilakukan melalui PCMB (Pemetaan Calon Murid Baru). Pada tahap tersebut, calon siswa secara mandiri memilih jalur pendaftaran yang tersedia, mulai dari jalur domisili, prestasi akademik, prestasi non-akademik, hingga afirmasi.
Untuk jalur domisili, sistem secara otomatis melakukan pemeringkatan berdasarkan jarak tempat tinggal calon siswa ke sekolah. Ranking dimulai dari yang terdekat hingga terjauh tanpa campur tangan pihak sekolah.
"Domisili diranking langsung oleh sistem. Sekolah tidak bisa menentukan siapa yang lolos. Semua berdasarkan data yang masuk dan diproses otomatis," jelasnya.
Sementara itu pada jalur prestasi akademik, penilaian dilakukan melalui kombinasi nilai rapor dan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Komposisinya masing-masing 50 persen, kemudian diurutkan berdasarkan nilai tertinggi hingga memenuhi kuota yang tersedia.
Sedangkan jalur prestasi non-akademik mempertimbangkan capaian kejuaraan siswa mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.
Meski banyak calon siswa yang memiliki domisili dekat sekolah atau memiliki prestasi yang baik, Nurjaka menegaskan bahwa kelulusan tetap ditentukan oleh hasil pemeringkatan sistem.
"Kalau kuotanya sudah terpenuhi oleh nilai yang lebih tinggi atau jarak yang lebih dekat, otomatis peserta lain yang berada di bawah ranking tidak akan diterima," katanya.
Dari total kuota yang tersedia, SMA Negeri 1 Cicurug membuka 12 rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas 42 siswa per kelas, sehingga total daya tampung mencapai 504 siswa.
Namun di tengah tingginya animo masyarakat, berbagai keluhan dari orang tua siswa masih terus bermunculan. Banyak yang mengaku kesulitan memahami mekanisme SPMB yang dinilai rumit dan membingungkan.
Menanggapi hal tersebut, pihak sekolah mengakui setiap tahun selalu menerima berbagai masukan dan keluhan masyarakat terkait sistem penerimaan murid baru.
"Keluhan masyarakat pasti ada dan selalu kami catat untuk dilaporkan. Setiap tahun juga begitu. Namun seluruh kebijakan berada pada sistem dan aturan yang sudah ditetapkan," ungkapnya.
Nurjaka juga menegaskan bahwa peluang manipulasi data oleh pihak sekolah sangat kecil karena seluruh proses seleksi berlangsung secara digital dan terpusat.
"Kalau sekolah tidak bisa memanipulasi. Semua proses penerimaan berbasis sistem. Peran sekolah hanya menerima dan memverifikasi data yang diunggah calon siswa," tegasnya.
Dengan jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari dua kali lipat kuota yang tersedia, persaingan masuk ke SMA Negeri 1 Cicurug tahun ini menjadi salah satu yang paling ketat di wilayah Sukabumi. Kondisi tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai efektivitas sistem SPMB yang hingga kini masih menuai pro dan kontra setiap kali penerimaan siswa baru berlangsung.
Redaktur : Usep Suherman

Social Header