Breaking News

PMT Dinilai Lebih Tepat Sasaran, Program MBG Disorot: Antara Ambisi Besar dan Tantangan Implementasi

SUKABUMIVIRAL.COM – Upaya pemerintah dalam meningkatkan status gizi masyarakat terus dilakukan melalui berbagai program, diantaranya Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keduanya memiliki tujuan mulia, namun dalam implementasinya memunculkan perbandingan tajam di tengah masyarakat dan para pemerhati kesehatan.

Salah satu tokoh pergerakan Cicurug JA Subagyo mengatakan, bahwa dari hasil pengamatan dan investigasi di lapangan ada beberapa faktor yang menunjang keberhasilan dan kelemahan suatu program yang memang kedua- duanya sama-sama berada dalam kontek tentang program Gizi diantaranya :


Keutamaan Program PMT: Fokus, Terarah, dan Berbasis Kebutuhan. 


Program PMT dinilai memiliki sejumlah keunggulan karena dirancang secara spesifik menyasar kelompok rentan yang paling membutuhkan intervensi gizi.


Pertama, PMT memiliki ketepatan sasaran yang tinggi. Program ini difokuskan pada balita dengan gizi kurang, ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), serta ibu menyusui yang berisiko melahirkan anak stunting. Dengan demikian, bantuan yang diberikan benar-benar menyentuh kelompok prioritas.


Kedua, PMT mengedepankan pendekatan berbasis kesehatan. Pelaksanaannya terintegrasi dengan layanan posyandu dan puskesmas, sehingga tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga disertai pemantauan tumbuh kembang, edukasi gizi, serta pendampingan langsung oleh tenaga kesehatan.


Ketiga, dari sisi komposisi makanan, PMT dirancang sesuai standar gizi yang dibutuhkan tubuh. Asupan protein, energi, vitamin, dan mineral diperhitungkan secara ilmiah untuk memperbaiki status gizi penerima manfaat.


Keempat, PMT relatif efisien dan terukur. Karena cakupannya lebih sempit dan terfokus, pengawasan dan evaluasi program menjadi lebih mudah dilakukan, sehingga dampaknya terhadap penurunan angka stunting dapat dipantau secara langsung.


Kelemahan Program MBG: Skala Besar, Resiko Besar


Di sisi lain, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas sebagai program berskala nasional justru menghadapi berbagai tantangan serius dalam implementasinya.


Pertama, potensi tidak tepat sasaran. Karena cakupan MBG sangat luas (menyasar pelajar secara umum), terdapat risiko bantuan tidak sepenuhnya diterima oleh kelompok yang paling membutuhkan, termasuk anak-anak dari keluarga mampu.


Kedua, beban anggaran yang sangat besar. Program ini membutuhkan alokasi dana yang tidak sedikit, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dan potensi pemborosan jika tidak dikelola secara efektif.


Ketiga, dari sisi distribusi dan logistik, MBG menghadapi tantangan kompleks. Penyediaan makanan dalam jumlah besar secara rutin berisiko menimbulkan masalah kualitas, keterlambatan distribusi, hingga potensi pemborosan makanan.


Keempat, minimnya pendekatan personal dan edukatif. Berbeda dengan PMT yang disertai pendampingan kesehatan, MBG cenderung bersifat massal sehingga aspek edukasi gizi dan perubahan perilaku belum tentu berjalan optimal.


Kelima, muncul kekhawatiran terkait potensi penyimpangan dalam pengadaan dan distribusi, mengingat skala proyek yang besar kerap menjadi celah terjadinya praktik tidak transparan jika tidak diawasi secara ketat.


Para ahli menilai bahwa kedua program ini sejatinya tidak perlu dipertentangkan, melainkan disinergikan. PMT tetap menjadi ujung tombak dalam penanganan gizi kelompok rentan, sementara MBG dapat menjadi pelengkap untuk meningkatkan asupan gizi secara lebih luas dengan catatan perbaikan sistem dan pengawasannya harus diperkuat,” pungkasnya, (Red/ Us

© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA