Breaking News

Merawat Persaudaraan di Tengah Musibah, Flobamorata NTT Hadir untuk Korban Kebakaran Ciptamulya

SUKABUMIVIRAL.COM — Di tengah kabar duka yang menyelimuti masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat bencana gempa bumi, sebuah pesan kemanusiaan justru mengalir dari tanah Pasundan. Komunitas Flobamorata NTT menunjukkan bahwa solidaritas tidak boleh mengenal batas wilayah, suku, budaya maupun kondisi.

Pada 26 Agustus 2026, Flobamorata NTT hadir di tengah warga terdampak kebakaran di Ciptamulya, Kabupaten Sukabumi. Mereka menyerahkan bantuan hasil penggalangan dana dari berbagai pihak sekaligus memberikan dukungan moril kepada para korban yang tengah menghadapi masa sulit.

Kehadiran tersebut bukan sekadar soal bantuan. Ini adalah pesan tegas bahwa ketika manusia sedang jatuh, kepedulian tidak boleh ikut padam.

Yang membuat aksi ini semakin bermakna, kegiatan kemanusiaan tersebut dilakukan ketika masyarakat NTT sendiri tengah menghadapi musibah. Namun kondisi itu tidak membuat semangat berbagi dan kepedulian Flobamorata surut.

Ketua Flobamorata, Metu Holbala, menegaskan bahwa musibah tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa persaudaraan.

Ketika saudara kami di NTT sedang menghadapi musibah, kami pun ingin menunjukkan bahwa kepedulian tidak boleh berhenti, karena penderitaan manusia adalah urusan kita bersama,” ujar Metu kepada awak media.

Pertemuan Flobamorata NTT dengan masyarakat Ciptamulya pun menjadi lebih dari sekadar agenda sosial. Di sana bertemu dua latar belakang budaya yang berbeda, tetapi disatukan oleh nilai yang sama: kemanusiaan dan persaudaraan.

Flobamorata dan Pasundan mungkin memiliki akar budaya, bahasa dan tradisi yang berbeda. Namun perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi tembok pemisah. Justru keberagaman harus menjadi jembatan untuk membangun kebersamaan.

Bagi korban kebakaran di Ciptamulya, bantuan yang diberikan tentu tidak serta-merta menghapus seluruh kesedihan akibat musibah. Tetapi kehadiran, uluran tangan dan dukungan moril dapat menjadi kekuatan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit seorang diri.

Begitu pula bagi masyarakat NTT yang tengah menghadapi bencana. Aksi Flobamorata di Sukabumi menjadi pesan bahwa NTT tidak sendiri dan persaudaraan tetap hidup meski jarak memisahkan.

Tokoh Ciptamulya: Ini Bukan Sekadar Bantuan, Tetapi Jembatan Persaudaraan

Kehadiran Flobamorata NTT mendapat sambutan hangat dari Tokoh Kesepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik, yang didampingi Jaro Iwan.

Abah Hendrik mengapresiasi kepedulian Ikatan Persaudaraan Flobamorata NTT–Pasundan (IPFP), terutama karena gerak organisasi tersebut tidak hanya berkutat pada persoalan sosial, tetapi juga adat, budaya dan kemasyarakatan.

Apalagi gerak IPFP terfokus pada adat dan budaya. Sehingga kunjungan ini bukan sekadar soal bantuan sosial, tetapi memiliki makna yang lebih besar karena dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda,” jelas Abah Hendrik.

Menurutnya, masyarakat Ciptamulya menyambut baik keberadaan IPFP dan melihat kehadiran tersebut sebagai awal dari lahirnya persaudaraan baru.

Jelas kami masyarakat Ciptamulya sangat menyambut baik dan mendukung hadirnya Ikatan Persaudaraan Flobamorata NTT–Pasundan. Kami merasa memiliki saudara baru,” tegasnya.

Abah Hendrik juga mengingatkan agar hubungan tersebut jangan berhenti ketika kegiatan bantuan selesai. Silaturahmi tidak boleh menjadi seremonial sesaat.

Ia berharap komunikasi dan kolaborasi antara IPFP dengan masyarakat Ciptamulya terus dikembangkan melalui kegiatan sosial, adat, budaya, keagamaan maupun kemasyarakatan.

Jangan sampai silaturahmi ini hanya terjadi hari ini. Kami berharap ke depan komunikasi dan kebersamaan ini terus berjalan. Kita bisa membuat kegiatan sosial, budaya, keagamaan maupun kegiatan kemasyarakatan secara bersama-sama. Kami juga membuka ruang kolaborasi antara IPFP dengan Paguyuban Prabu yang berada dalam lingkungan 14 Kesepuhan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Abah Hendrik menilai perbedaan latar belakang bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dibangun dengan rasa saling menghormati dan kepedulian.

Mudah-mudahan IPFP semakin besar, semakin bermanfaat dan semakin dekat dengan masyarakat. Kami dari Ciptamulya siap membuka pintu silaturahmi dan membangun kolaborasi bersama,” pungkas Abah Hendrik.

Dari Ciptamulya, Api Kepedulian Harus Terus Menyala

Apa yang terjadi di Ciptamulya mungkin terlihat sederhana. Tidak ada panggung besar, tidak ada kemeriahan, dan tidak ada sekat antara pemberi dan penerima.
Yang hadir hanyalah manusia yang sedang berusaha menguatkan manusia lainnya.

Di tengah sebagian saudara di NTT yang sedang menghadapi musibah, masyarakat Flobamorata di Sukabumi justru memilih menyalakan api kepedulian di tengah warga Ciptamulya yang terdampak kebakaran.

Pesannya sederhana, tetapi kuat:

Flobamora dan Pasundan adalah saudara.
Karena persaudaraan bukan sekadar soal berasal dari daerah yang sama. Persaudaraan adalah keberanian untuk hadir ketika orang lain membutuhkan, kesediaan mengulurkan tangan ketika sesama sedang terjatuh, dan ketulusan untuk tetap peduli meskipun diri sendiri sedang menghadapi ujian.

Dari Ciptamulya Sukabumi, kemanusiaan kembali mengingatkan: berbeda budaya bukan alasan untuk berbeda kepedulian.

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA