Breaking News

Renungan dan Ungkapan Tokoh Cicurug H. Ateng Tajudin Tentang Kehidupan di Era Globalisasi

SUKABUMIVIRAL.COM – Jumat 24 April 2026- Di lereng Gunung Salak, tepatnya di Kampung Benteng yang sunyi dan terisolir, seorang tokoh masyarakat Cicurug, H. Ateng Tajudin, duduk bersandar di kursi reyot. Dalam kesederhanaan itu, ia merenungi perjalanan bangsa yang kini dirasa semakin berat dan penuh ujian.

Dengan nada lirih namun sarat makna, ia menggambarkan kondisi bangsa Indonesia, yang mayoritas berpenduduk Muslim, sedang menghadapi gelombang persoalan yang datang silih berganti. Sebagian menyebutnya sebagai teguran, musibah, bahkan ada pula yang menilainya sebagai azab. Namun bagi H. Ateng, apapun istilahnya, kenyataan yang dirasakan rakyat adalah kehidupan yang kian sulit: “di kampung terasa ripuh, di kota semakin susah.”

Pertanyaan besar pun muncul dari kegelisahan masyarakat kecil: ke arah mana bangsa ini akan dibawa?

Menurutnya, suara keputusasaan itu lahir dari kejenuhan rakyat terhadap perilaku para pemimpin. Mulai dari tingkat tertinggi hingga elit politik, yang dinilai lebih sibuk dengan perebutan kekuasaan, saling menjatuhkan, dan memperjuangkan kepentingan kelompok, ketimbang memperhatikan penderitaan rakyat.

Ia menyoroti berbagai realitas pahit yang dihadapi masyarakat: korban bencana yang hidup di pengungsian tanpa kepastian, keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan harapan, petani yang kian terhimpit, buruh dengan upah yang tak kunjung layak, hingga gelombang PHK yang memperparah pengangguran. Di sisi lain, kriminalitas meningkat, sementara kaum terpelajar pun banyak yang belum mendapatkan pekerjaan.

Rakyat kecil terus memikul beban, sementara mereka yang di atas seakan larut dalam kepentingan masing-masing,” ungkapnya dengan nada getir.

Lebih jauh, ia menyindir kondisi politik yang dinilai semakin jauh dari nilai-nilai moral. Bahkan, menurutnya, yang lurus pun bisa ikut “dibengkokkan” demi ambisi kekuasaan. Fenomena ini, kata dia, semakin memperlemah kepercayaan masyarakat terhadap para wakil rakyat.

Di akhir renungannya, H. Ateng Tajudin mengajak seluruh tokoh, pemimpin, dan elemen masyarakat untuk berhenti sejenak dan melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi bangsa saat ini. Ia berharap masih ada kesadaran kolektif untuk kembali pada nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Dari lereng Gunung Salak yang sunyi, suara itu mungkin terdengar sederhana. Namun sesungguhnya, ia adalah jeritan hati rakyat yang menginginkan perubahan, bukan sekadar janji, melainkan tindakan nyata.

Mari kita renungkan bersama, sebelum semuanya terlambat,” pungkasnya dengan penuh keprihatinan. 

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA