SUKABUMIVIRAL.COM – Selama ini publik mengenal Ketua Umum GAPURA RI, Hakim Adonara, sebagai sosok aktivis yang lantang mengkritik kebijakan pemerintah, mengawal berbagai persoalan hukum, hingga vokal mengawasi penggunaan anggaran negara. Namun, di balik citra kritis tersebut, tersimpan fakta yang baru terungkap ke ruang publik, yakni dirinya telah resmi menjadi kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak tahun 2022.
Langkah politik itu selama ini nyaris tak terdengar. Hakim memilih tidak menjadikan status kepartaian sebagai konsumsi publik. Ia tetap tampil sebagai aktivis yang berada di garis depan menyuarakan kepentingan masyarakat tanpa membawa atribut politik dalam setiap gerakannya.
Bagi sebagian kalangan, fakta tersebut mungkin menimbulkan tanda tanya. Bagaimana mungkin seorang aktivis yang selama ini begitu keras mengkritik kebijakan publik ternyata telah menjadi bagian dari partai politik? Namun, Hakim menegaskan bahwa perjuangan tidak harus selalu dilakukan dari luar sistem.
"Itu pilihan. Artinya perjuangan tidak selalu harus dilakukan dari luar. Ada kalanya perubahan justru diperjuangkan dari dalam melalui jalur politik yang sah dan konstitusional," ujar Hakim Adonara kepada awak media, selasa (30/06/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa jalur politik dipandangnya sebagai instrumen perjuangan, bukan sekadar kendaraan menuju kekuasaan. Meski demikian, tantangan yang kini dihadapinya jauh lebih besar dibanding saat masih berada sepenuhnya di luar arena politik praktis.
Publik tentu akan menaruh ekspektasi tinggi. Seorang aktivis yang masuk ke dalam partai politik akan diuji konsistensinya. Apakah suara kritisnya tetap lantang ketika harus berhadapan dengan kepentingan politik, atau justru perlahan meredup karena terikat loyalitas terhadap partai.
Selama ini Hakim dikenal tidak segan mengkritisi kebijakan pemerintah, mengawal berbagai laporan masyarakat, hingga mendorong penegakan hukum yang transparan. Rekam jejak tersebut menjadi modal sekaligus beban moral yang akan terus melekat dalam setiap langkah politiknya.
Di tengah menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap sebagian elite politik, hadirnya figur berlatar belakang aktivis dinilai dapat menjadi energi baru, asalkan tetap menjaga independensi sikap dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat, bukan sekadar mengikuti arus kepentingan politik praktis.
Hakim sendiri memilih menyikapi perjalanan politiknya secara sederhana. Ia mengaku tidak ingin menjadikan status kader partai sebagai sesuatu yang harus dipublikasikan secara berlebihan.
"Untuk sementara biasa saja. Dari dulu juga begitu, biarkan saja semuanya mengalir seperti air," tutupnya.
Kini, perjalanan Hakim Adonara memasuki babak baru. Dari jalanan pergerakan menuju ruang-ruang politik, dari mimbar kritik menuju meja perumusan kebijakan. Publik tentu tidak hanya akan mendengar narasi perjuangan, tetapi juga menunggu bukti nyata.
Pada akhirnya, waktu yang akan menjawab apakah bergabungnya Hakim Adonara ke PPP benar-benar menjadi langkah strategis untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui jalur konstitusional, atau hanya menjadi bagian dari dinamika politik yang selama ini kerap dipenuhi janji tanpa realisasi.
Redaktur: Usep Suherman

Social Header