SUKABUMIVIRAL.COM – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cicurug, KH Moch Endang Sanasul Ahza, mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan tidak hanya sebagai bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun kemerdekaan jiwa dan kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam.
Menurut KH Moch Endang Sanaaul Ahza dalam perspektif Islam, kemerdekaan atau al-hurriyah memiliki makna yang sangat luas. Kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari kekuasaan bangsa lain, melainkan terbebas dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia, hawa nafsu, keserakahan, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.
“Dalam Islam, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik atau bangsa lain. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk, hawa nafsu dan dunia, kemudian tunduk sepenuhnya hanya kepada Allah SWT,” ujar KH Moch Endang Sanaaul Ahza, minggu (16/08/2026).
Ia menjelaskan, hakikat kemerdekaan dalam Islam pertama-tama adalah bebas dari penghambaan terhadap sesama manusia. Setiap manusia memiliki martabat dan kedudukan yang harus dihormati. Karena itu, kemerdekaan harus diwujudkan dengan menolak segala bentuk penindasan, kesewenang-wenangan, diskriminasi, maupun tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Kedua, kemerdekaan menurut syariat Islam adalah ketundukan hanya kepada Allah SWT. Manusia yang merdeka secara hakiki adalah manusia yang tidak menjadikan kekuasaan, jabatan, materi, maupun kepentingan dunia sebagai sesuatu yang menguasai dirinya.
Kalimat La ilaha illallah, menurutnya, merupakan bentuk penegasan tauhid sekaligus pembebasan jiwa manusia dari berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT.
“Manusia boleh memiliki jabatan, kekayaan dan kekuasaan, tetapi jangan sampai semua itu menjadi tuan atas dirinya. Seorang muslim harus tetap menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan pengabdian,” jelasnya.
Merdeka dari Belenggu Hawa Nafsu
KH Moch Endang Sanaaul Ahza juga mengingatkan bahwa kemerdekaan harus dimulai dari kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sendiri.
Seseorang belum dapat dikatakan benar-benar merdeka apabila masih diperbudak oleh amarah, keserakahan, iri hati, kebencian, maupun kecintaan terhadap dunia secara berlebihan.
Karena itu, momentum HUT RI ke-81 hendaknya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi. Kemerdekaan bangsa harus diiringi dengan kemerdekaan moral dan spiritual masyarakat.
“Jangan sampai kita merayakan kemerdekaan bangsa, tetapi masih dijajah oleh hawa nafsu. Jangan sampai secara lahiriah kita merdeka, tetapi secara batin kita masih diperbudak oleh keserakahan, iri hati dan kecintaan kepada dunia,” tegasnya.
Kemerdekaan Harus Melahirkan Kebaikan
Lebih jauh, Ketua MUI Kecamatan Cicurug tersebut menyampaikan bahwa kemerdekaan juga harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan tanpa rasa takut maupun tekanan.
Kemerdekaan, kata dia, seharusnya melahirkan masyarakat yang memiliki kebebasan untuk berbuat baik, menegakkan keadilan, menjaga persaudaraan dan saling membantu.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, kemerdekaan tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, norma agama, hukum dan kepentingan masyarakat.
Ia pun mengajak masyarakat Kecamatan Cicurug untuk mengisi kemerdekaan dengan memperkuat keimanan, menjaga persatuan, menghormati perbedaan serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
“Bangsa ini sudah diperjuangkan dan dipertahankan dengan pengorbanan yang luar biasa oleh para pendahulu kita. Tugas generasi sekarang bukan hanya menikmati kemerdekaan, tetapi mengisinya dengan amal, ilmu, persatuan dan kemaslahatan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan demikian, peringatan HUT RI ke-81 diharapkan tidak berhenti pada seremoni dan perayaan semata. Kemerdekaan hendaknya menjadi momentum untuk mewujudkan masyarakat yang merdeka secara lahir dan batin, kuat secara moral, serta tunduk kepada Allah SWT dalam menjalankan kehidupan.
Redaktur : Usep Suherman

Social Header