Breaking News

Merosotnya Akhlak dan Adab Bangsa, Ketika Jabatan Menjadi Berhala dan Materi Menjadi Tuhan Baru

SUKABUMIVIRAL.COM – Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung pencakar langit, megahnya infrastruktur, atau besarnya angka pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akhlak, adab, dan moral yang menjadi pondasi peradabannya. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus modernisasi, bangsa Indonesia sedang menghadapi krisis yang jauh lebih berbahaya dari pada krisis ekonomi, yakni krisis akhlak dan hilangnya adab sebagai jati diri bangsa.

Fenomena lunturnya nilai kesopanan, rasa hormat kepada orang tua, etika dalam bermasyarakat, hingga hilangnya kejujuran dan amanah kini menjadi pemandangan sehari-hari. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan perilaku pamer kekayaan. Sementara sebagian pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru terseret dalam pusaran kepentingan pribadi, kelompok, dan kekuasaan.

Tokoh Masyarakat sekaligus Pendiri YCMS Rd Prabu Handy Wijaya menilai bahwa kemajuan material tanpa dibarengi pembangunan moral hanya akan melahirkan kesombongan dan kehancuran peradaban.

"Kekuatan materi memang dapat membawa kemajuan. Namun ketika materi dijadikan tujuan hidup dan alat untuk menyombongkan diri, menzalimi sesama, serta mempertontonkan kekuasaan, maka sesungguhnya manusia sedang menggali lubang kehancurannya sendiri," ujarnya kepada SukabumiViral.com , Sabtu (08/08/2026) 

Menurutnya, penyakit terbesar yang saat ini menggerogoti bangsa bukanlah kemiskinan, melainkan keserakahan. Ambisi memperkaya diri dengan menghalalkan segala cara telah melahirkan generasi yang lebih mengejar popularitas daripada integritas, lebih mengutamakan keuntungan daripada kejujuran.

"Keserakahan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ketika seseorang merasa dirinya paling hebat karena jabatan dan kekuasaan, maka saat itulah ia mulai kehilangan akal sehat dan nurani," tegasnya.

Ia juga menyoroti banyaknya pemegang amanah yang dinilai tidak lagi menjadikan jabatan sebagai sarana pengabdian kepada rakyat, melainkan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan kelompok.

"Banyak pemimpin yang lupa bahwa jabatan hanyalah titipan. Mereka terlena oleh pujian, fasilitas, dan kekuasaan sehingga melupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada rakyat maupun kepada Allah SWT," ungkapnya.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang berlaku sombong dan menyalahgunakan kekuasaan. Firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 83 menegaskan "bahwa negeri akhirat diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi".

Sementara dalam Surah An-Nisa ayat 58, Allah memerintahkan agar setiap amanah disampaikan kepada yang berhak dan setiap keputusan dilakukan dengan adil. "Bagi mereka yang mengkhianati amanah, berlaku zalim, serta menjadikan jabatan sebagai alat penindasan, Allah telah menyiapkan hisab yang berat di akhirat kelak".

Kemerosotan akhlak dan adab yang terjadi saat ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh elemen bangsa. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa banyak peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan harta atau lemahnya teknologi, melainkan karena rusaknya moral para pemimpin dan masyarakatnya.

Jika bangsa ini ingin kembali dihormati dan disegani, maka pembangunan karakter, akhlak, dan adab harus ditempatkan di atas segala kepentingan politik maupun ekonomi. Sebab tanpa akhlak, kekuasaan akan melahirkan kezaliman. Tanpa adab, ilmu akan melahirkan kesombongan. Dan tanpa iman, kemajuan hanya akan menjadi jalan menuju kehancuran.

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA