Breaking News

Perjalanan KPH Djoyokoesumo (Eyang Santri Girijaya) Menuju Gelar Pahlawan Nasional

SUKABUMIVIRAL.COM – Perjuangan panjang untuk mengusulkan KPH Djoyokoesumo atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Eyang Santri Girijaya menjadi Pahlawan Nasional terus bergulir. Berbagai penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi mengungkap sejumlah fakta sejarah yang dinilai memperkuat jasa dan peran tokoh tersebut dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Cucu KPH Djoyokoesumo, Raden Ayu Hj. Ahdiyati Djoyokoesumo (Hj. Tito), menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian TP2GD Kabupaten Sukabumi, kakeknya teridentifikasi sebagai salah satu Telik Sandi (intelijen) dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830).

Menurut Hj. Tito, KPH Djoyokoesumo merupakan bangsawan dari lingkungan Mangkunegaran Surakarta. Pada masa Perang Diponegoro, ia diduga Belanda turut membantu perjuangan Pangeran Diponegoro, sehingga menjadi buronan pemerintah kolonial.

"Beliau adalah bangsawan Mangkunegaran Surakarta. Karena dicurigai membantu perjuangan Pangeran Diponegoro, beliau menjadi buronan Belanda dan terpaksa meninggalkan lingkungan Mangkunegaran. Saat berada di Jawa Barat, beliau kemudian menggunakan nama Santri," ungkap Hj. Tito.

Ia menuturkan, setelah meninggalkan Surakarta, KPH Djoyokoesumo menjalani pengembaraan panjang di wilayah Jawa Barat selama kurang lebih 63 tahun. Dalam perjalanan tersebut, beliau aktif membangun jaringan perjuangan dan menghimpun tokoh-tokoh pergerakan yang kelak memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.

Teridentifikasi Sebagai Telik Sandi Perang Diponegoro

Perjuangan pengusulan gelar Pahlawan Nasional semakin menguat setelah TP2GD Kabupaten Sukabumi melakukan penelitian lapangan ke berbagai lokasi sejarah.Pada 21 April 2026, tim melakukan penelusuran ke Museum Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta, serta diterima oleh Korem 072/Pamungkas dan Patrapadi (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro).

Dari hasil penelitian tersebut, nama KPH Djoyokoesumo teridentifikasi dalam daftar pejuang yang terlibat dalam Perang Jawa.

"TP2GD menemukan bahwa KPH Djoyokoesumo tercatat sebagai Telik Sandi atau intelijen Perang Diponegoro. Beliau berada pada nomor urut 53 dari 388 orang yang membantu perjuangan Diponegoro," jelas Hj. Tito.

Temuan tersebut menjadi salah satu fakta penting yang saat ini menjadi bagian dari berkas pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Guru Besar Para Tokoh Pergerakan Nasional

Selain keterlibatannya dalam Perang Diponegoro, KPH Djoyokoesumo juga disebut memiliki peran besar dalam membentuk kader-kader pergerakan nasional.

Menurut Hj. Tito, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Kiai Santri Girijaya dikenal sebagai guru besar bagi sejumlah tokoh yang kemudian menjadi pelopor kebangkitan nasional.Salah satu nama yang disebut adalah Dr. Soetomo, tokoh pendiri Budi Utomo yang dikenal sebagai pelopor Kebangkitan Nasional tahun 1908.

"Beliau adalah guru besar dari tokoh-tokoh pergerakan. Salah satunya Dr. Soetomo yang kemudian dikenal sebagai Bapak Kebangkitan Nasional," ujar Hj. Tito.

Selain itu, Hj. Tito juga menyebut tokoh lain yang pernah memiliki hubungan keilmuan dengan Kiai Santri Girijaya, termasuk para aktivis pergerakan yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda salah satunya pemberontakan Teluk Naga pada Tahun 1924 yaitu oleh Ka I'in bin Ka I'ah. 

Mendukung Pergerakan Sumpah Pemuda 1928

Dalam catatan keluarga, KPH Djoyokoesumo juga disebut memberikan dukungan terhadap gerakan nasionalisme Indonesia.

Hj. Tito mengungkapkan bahwa kakeknya pernah menyumbangkan dana sebesar 1.000 gulden untuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan Sumpah Pemuda tahun 1928, dari total kebutuhan biaya sebesar 1.500 gulden saat itu.

Menurutnya, dukungan tersebut menunjukkan komitmen Kiai Santri Girijaya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Hubungan Dengan Tokoh BPUPKI dan Lingkaran Soekarno

Fakta lain yang menjadi perhatian adalah hubungan KPH Djoyokoesumo dengan Raden Mas Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, salah satu tokoh nasional yang pernah menjadi anggota BPUPKI tahun 1945 serta menjabat sebagai Sekretaris Kabinet Presiden Soekarno. 

Hj. Tito menjelaskan, keberadaan Pringgodigdo di Girijaya tercatat dalam sebuah buku yang ditulisnya pada tanggal 2 Mei 1939, yang menurutnya menjadi salah satu bukti hubungan historis antara Kiai Santri Girijaya dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional menjelang kemerdekaan.

Selain itu, keluarga juga meyakini bahwa Ir. Soekarno merupakan salah satu murid terakhir Kiai Santri Girijaya yang diperkenalkan melalui jalur pergerakan nasional saat itu.

"Menurut riwayat keluarga, Bung Karno pernah dibawa oleh HOS Tjokroaminoto ke Girijaya untuk bertemu dan belajar kepada Kiai Santri," tutur Hj. Tito.

Ulama Tasawuf dan Pengamal Tarekat Syattariyah

Tidak hanya dikenal sebagai tokoh perjuangan, KPH Djoyokoesumo juga dikenal sebagai ulama tasawuf.

Menurut Hj. Tito, Kiai Santri Girijaya merupakan pengamal Tarekat Syattariyah dengan sanad keilmuan yang tersambung kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, salah satu ulama besar Nusantara.

Perjuangan Mengusulkan Gelar Pahlawan Nasional

Gagasan mengusulkan KPH Djoyokoesumo sebagai Pahlawan Nasional berawal dari inisiatif keluarga yang menemukan berbagai dokumen dan catatan sejarah mengenai kiprah sang tokoh.

Hj. Tito mengaku tergerak setelah melihat banyak murid Kiai Santri yang telah memperoleh pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.

"Karena murid-murid beliau sudah menjadi pahlawan nasional, saya berpikir mengapa guru mereka tidak diajukan sebagai Pahlawan Nasional," katanya.

Pada tahun 2023, keluarga mulai mengajukan usulan kepada Kementerian Sosial melalui mekanisme pengajuan gelar Pahlawan Nasional.

Proses tersebut kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Sukabumi hingga berlanjut pada pembentukan TP2GD Kabupaten Sukabumi melalui Surat Keputusan Bupati pada tahun 2025.

Setelah melakukan penelitian, pengumpulan dokumen, verifikasi sejarah, dan penelusuran lapangan, TP2GD menyatakan telah menyelesaikan tugas pengkajian secara paripurna.

Berkas Sudah Masuk Pemda Kabupaten Sukabumi

Hj. Tito menyebutkan bahwa hasil penelitian TP2GD telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi pada 21 Mei 2026.

Saat ini berkas tersebut berada dalam proses kajian dan pembahasan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi sebelum diajukan ke tahapan berikutnya.

"TP2GD sudah paripurna meneliti KPH Djoyokoesumo untuk menjadi Pahlawan Nasional. Berkasnya sudah diserahkan kepada Pemda dan saat ini sedang dipelajari," ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi, khususnya kepada Bupati Sukabumi yang telah memfasilitasi pembentukan TP2GD dan mendukung proses penelitian sejarah tersebut.

"Mudah-mudahan perjuangan kakek kami dapat dihargai dan mendapat pengakuan yang layak dari negara," pungkasnya.

Dengan berbagai temuan sejarah yang telah dihimpun TP2GD Kabupaten Sukabumi, perjalanan KPH Djoyokoesumo atau Eyang Santri Girijaya menuju gelar Pahlawan Nasional kini memasuki tahapan penting. Berkas penelitian telah berada di Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan menunggu proses pengesahan serta rekomendasi lebih lanjut untuk diajukan ke tingkat nasional.

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA