Breaking News

AKSI KOLABORASI HIJAU 82: Menjaga Hulu, Menyelamatkan Masa Depan

SUKABUMIVIRAL.COM //Garut -  Di saat berbagai kawasan hutan dan daerah resapan air terus menghadapi tekanan akibat perubahan tata guna lahan dan menurunnya kepedulian terhadap lingkungan, sekelompok pegiat alam memilih untuk bergerak nyata. Bertempat di kawasan Curug Ciawer, Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Paguyuban Kolaborasi Hijau bersama Personil Jaga Leuweung melaksanakan Aksi Kolaborasi Hijau 82 melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon sebagai upaya menjaga keberlangsungan ekosistem hulu. Rabu (24/6/2026) 

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pemeliharaan tanaman yang telah ditanam pada kegiatan sebelumnya. Langkah ini menjadi bukti bahwa menjaga alam bukan sekadar menanam bibit untuk kebutuhan dokumentasi, melainkan memastikan pohon dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.

Dalam aksi tersebut, para relawan melakukan penanaman beberapa jenis pohon yang memiliki nilai ekologis tinggi, di antaranya Manglid (Manglietia glauca) sebagai tanaman konservasi dan bernilai ekonomi, Eukaliptus Rainbow (Eucalyptus deglupta) yang dikenal memiliki pertumbuhan cepat dan kemampuan menyerap karbon, serta Beringin (Ficus benjamina) yang sejak lama dikenal sebagai pohon pelindung sekaligus penjaga sumber air karena sistem perakarannya yang kuat.

Salah satu motor penggerak kegiatan ini adalah Ujang Rohidin, Personil Jaga Leuweung Desa Margamulya, yang bersama rekan-rekannya terus konsisten mengawal upaya pelestarian lingkungan di kawasan tersebut. Menurutnya, menjaga hutan tidak bisa dilakukan secara musiman.

"Menanam pohon itu mudah, tetapi menjaga dan merawatnya hingga tumbuh besar adalah bentuk tanggung jawab yang sesungguhnya. Hutan yang lestari akan menjaga air, dan air yang terjaga akan menjaga kehidupan masyarakat," ungkap Ujang Rohidin di sela kegiatan.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau, H. Jaeni, menegaskan bahwa gerakan penghijauan harus menjadi budaya bersama, bukan hanya kegiatan seremonial yang dilakukan sesekali.

"Hari ini kita menanam Manglid, Eukaliptus Rainbow, dan Beringin. Namun sejatinya yang kita tanam bukan hanya pohon, melainkan harapan. Kita sedang menyiapkan warisan lingkungan yang lebih baik untuk anak cucu kita. Jika hulu rusak, maka hilir akan menerima dampaknya. Karena itu menjaga leuweung adalah menjaga kehidupan," tegas H. Jaeni.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan kurangnya bibit atau kurangnya lahan, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, Kolaborasi Hijau terus mendorong lahirnya aksi-aksi nyata yang melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan, sumber mata air, dan daerah resapan.

Mengusung semangat "Hijrah untuk Alam, Aksi untuk Kehidupan", kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak akan berhenti hanya dengan keluhan, melainkan harus dijawab dengan tindakan. Setiap pohon yang tumbuh akan menjadi benteng alami terhadap erosi, penyimpan cadangan air, penyerap karbon, sekaligus penopang kehidupan bagi generasi mendatang.

Di tengah derasnya arus pembangunan dan perubahan zaman, Aksi Kolaborasi Hijau 82 menunjukkan bahwa harapan masih tumbuh di lereng-lereng hutan Garut. Harapan yang ditanam bersama, dirawat bersama, dan diperjuangkan bersama demi masa depan bumi yang lebih hijau.

"Bersama Jaga Leuweung, Kita Rawat Kehidupan." Sebab ketika hutan terjaga, mata air mengalir, alam lestari, dan kehidupan akan terus bersemi.

Reporter : Rian Sagita
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA