Namun kondisi berbeda terlihat di sepanjang Jalan Siliwangi, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Sejumlah lampu PJU di beberapa titik dilaporkan tidak berfungsi alias padam. Kondisi tersebut pun memunculkan pertanyaan serius: bagaimana sebenarnya fungsi maintenance atau pemeliharaan PJU selama ini dijalankan?
Salah seorang warga Cicurug, Asep (50), mengaku prihatin dengan banyaknya lampu jalan yang mati dan terkesan dibiarkan tanpa penanganan.
"Iya, coba aja lihat dan hitung berapa lampu PJU yang padam dan tidak berfungsi," ujar Asep kepada Sukabumiviral.Com Kamis (27/08/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap persoalan sepele. Jalan Siliwangi merupakan salah satu jalur yang memiliki aktivitas cukup tinggi. Ketika malam tiba, pencahayaan jalan menjadi faktor penting bagi pengendara maupun masyarakat yang melintas."Lampu PJU ini sebetulnya sangat membantu para pengemudi dan pejalan kaki untuk melihat kondisi jalan dengan jelas pada malam hari atau saat cuaca gelap," katanya.
Asep pun mempertanyakan siapa pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap pemeliharaan lampu PJU tersebut. Sebab, keberadaan infrastruktur tanpa perawatan yang optimal dinilai sama saja dengan membiarkan fasilitas publik kehilangan fungsinya.
"Percuma saja ada lampu PJU kalau kondisinya padam dan tidak bermanfaat. Ini sebetulnya kewenangan siapa untuk maintenance atau perawatannya?" ketusnya.
Persoalan PJU mati sejatinya membuka ruang pertanyaan lebih luas mengenai sistem pengawasan dan pemeliharaan fasilitas publik. Maintenance PJU seharusnya mencakup pemeriksaan berkala, perbaikan gangguan, hingga penggantian komponen yang rusak agar lampu dapat berfungsi secara optimal.Lalu, apakah sistem pemeliharaan tersebut benar-benar berjalan?
Jika kerusakan lampu terjadi hanya di satu atau dua titik, mungkin dapat dianggap sebagai gangguan teknis biasa. Namun apabila terdapat sejumlah titik lampu yang padam dalam waktu lama dan tidak segera ditangani, maka publik berhak mempertanyakan efektivitas pengawasan serta respons instansi yang bertanggung jawab.
Tak hanya itu, Asep juga mempertanyakan keberadaan dan realisasi anggaran pemeliharaan PJU.
"Apakah Pemda menyediakan anggaran pemeliharaan Penerangan Jalan Umum? Kalau memang ada, kenapa kondisi di lapangan masih banyak yang tidak berfungsi?" ungkapnya.
Pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka. Sebab, anggaran publik pada akhirnya harus bermuara pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, bukan sekadar tercatat dalam dokumen perencanaan dan laporan administrasi.
Jangan sampai pemasangan PJU menjadi program yang terlihat aktif saat proyek dikerjakan, namun setelah lampu terpasang dan mulai mengalami kerusakan, proses pemeliharaan justru berjalan lambat atau bahkan luput dari perhatian.
Warga berharap instansi terkait segera melakukan pendataan terhadap titik-titik PJU yang padam di wilayah Kecamatan Cicurug, khususnya di sepanjang Jalan Siliwangi, kemudian melakukan perbaikan secara menyeluruh.
"Jangan membiarkan anggaran dikucurkan, tapi realisasi dan manfaatnya di lapangan tidak dirasakan masyarakat. Buka mata untuk melihat keadaan, jangan biarkan persoalan makin menumpuk hanya karena lampu PJU," tegasnya.
Asep bahkan melontarkan kritik keras terhadap pola penanganan fasilitas publik yang dinilai kerap hanya menjadi perhatian pada saat proyek pengadaan dan pemasangan dilakukan.
"Giliran tender pemasangan berebut keuntungan, giliran lampu padam tidak ada yang memperhatikan," pungkasnya.
Kini, persoalan lampu PJU yang mati bukan hanya soal gelapnya ruas jalan. Lebih dari itu, kondisi tersebut menjadi ujian bagi keseriusan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam menjaga fasilitas publik yang telah dibangun menggunakan uang rakyat.
Masyarakat tentu tidak hanya membutuhkan lampu yang berdiri tegak di pinggir jalan, tetapi lampu yang benar-benar menyala dan menjalankan fungsinya.
Redaktur: Usep Suherman

Social Header