SUKABUMIVIRAL.COM – Pengelolaan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) oleh Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) Bersekajaya di Kampung Benteng, RT 01/RW 04, Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mendapat perhatian dari delegasi Yayasan Penyayang Iskandar Puteri (YPIP) Johor Bahru, Malaysia.
Kunjungan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Kutajaya pada Jumat (9/10/2026) tersebut menjadi momentum pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan sarana air bersih berbasis masyarakat, termasuk upaya meningkatkan akses air minum yang layak bagi warga.
Kunjungan delegasi YPIP Malaysia ini sekaligus menjadi motivasi bagi pengurus KPSPAM Bersekajaya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat tata kelola administrasi, serta mengembangkan sarana penyediaan air bersih agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Ketua Pamsimas Bersekajaya, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa perjalanan pengelolaan sarana air bersih di wilayahnya dimulai pada April 2023 melalui program bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM) Pamsimas.
Menurutnya, pembangunan sarana tersebut dilaksanakan melalui tahapan perencanaan hingga penyelesaian pekerjaan pada Agustus 2023. Selanjutnya, pada September 2023, sarana air bersih mulai dimanfaatkan oleh masyarakat dengan kapasitas awal sebanyak 80 sambungan rumah (SR).
"Alhamdulillah, sejak mulai dibangun pada April 2023, sarana Pamsimas ini akhirnya dapat dimanfaatkan masyarakat pada September tahun yang sama. Awalnya kami melayani sekitar 80 sambungan rumah," ujar Iwan.
Seiring berjalannya waktu, pengelolaan Pamsimas Bersekajaya terus mengalami perkembangan. Pada 2024, pihaknya memperoleh dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari Danone Indonesia.
Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk menambah 50 sambungan rumah sekaligus meningkatkan kualitas pengolahan air melalui pembangunan rumah klorinasi, yakni fasilitas untuk proses desinfeksi menggunakan klorin guna membantu mengendalikan mikroorganisme dalam air.
Dengan adanya dukungan pemerintah dan CSR tersebut, kapasitas pelayanan terus ditingkatkan. Pengurus kemudian membuka kesempatan bagi masyarakat lain yang ingin mendapatkan sambungan air bersih secara mandiri.
Pada 2025, jumlah sambungan rumah tercatat mencapai sekitar 150 SR. Hingga saat ini, layanan tersebut telah membantu memenuhi kebutuhan air sekitar 600 jiwa, dengan estimasi jumlah penerima manfaat mencapai 613 orang.
"Awalnya bantuan dari pemerintah dan CSR mencakup 130 sambungan rumah. Sementara target kami sebanyak 160 sambungan. Setelah pengembangan secara bertahap, pada 2025 jumlahnya mencapai sekitar 150 sambungan rumah," ungkapnya.
Iuran Air untuk Menopang Operasional dan Pemeliharaan
Dalam menjalankan pelayanan, KPSPAM Bersekajaya menerapkan iuran pemakaian air sebesar Rp3.000 per meter kubik atau setiap 1.000 liter air.
Dana tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional, termasuk pembayaran listrik, pemeliharaan jaringan, serta perawatan sarana dan prasarana agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan.
Iwan mengungkapkan, kebutuhan biaya operasional menjadi salah satu tantangan yang harus diperhitungkan secara berkelanjutan. Terlebih, pada kondisi tertentu, tagihan listrik untuk mendukung operasional sistem penyediaan air dapat mencapai sekitar Rp1,2 juta per bulan.
Karena itu, pengelolaan iuran pelanggan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan. Di sisi lain, pengembangan kapasitas sarana juga diperlukan agar kebutuhan masyarakat yang terus meningkat dapat terpenuhi.
Penambahan Sumur Bor dan Peningkatan Debit Air Jadi Harapan
Meski telah memberikan manfaat nyata bagi ratusan warga, pengelolaan Pamsimas Bersekajaya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat secara lebih luas.
Iwan menyebutkan, penambahan kapasitas sumber air melalui pembangunan sumur bor maupun penggantian mesin dengan kemampuan yang lebih besar menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan debit air sehingga pelayanan kepada pelanggan semakin optimal, terutama ketika musim kemarau menyebabkan kebutuhan air bersih meningkat.
"Kami berharap masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan bisa segera terakomodasi. Air merupakan kebutuhan vital.
Karena itu, kami sangat berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk instansi terkait, agar sarana ini dapat dikembangkan melalui penambahan sumur bor atau peningkatan kapasitas mesin," tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan air berbasis masyarakat tidak cukup hanya dengan membangun sarana. Diperlukan pula dukungan berkelanjutan, pemeliharaan yang baik, serta pengembangan kapasitas sesuai dengan pertumbuhan kebutuhan penduduk.
Kunjungan Delegasi Malaysia Jadi Motivasi untuk Berbenah
Terkait kunjungan delegasi YPIP Johor Bahru, Malaysia, Iwan mengaku bersyukur dan mengapresiasi kesempatan tersebut.
Ia menilai kunjungan ini menjadi pengalaman berharga bagi pengurus KPSPAM Bersekajaya, terutama untuk bertukar informasi mengenai pengelolaan sarana air bersih, sistem pelayanan masyarakat, dan tata kelola organisasi.
"Ini menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kami sekaligus motivasi untuk menjadi lebih baik ke depannya. Kami bisa belajar dan berbagi pengalaman, termasuk mengenai pengelolaan administrasi dan bagaimana pelayanan air kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan," katanya.
Ia berharap, kegiatan pertukaran pengetahuan seperti ini tidak berhenti pada kunjungan semata, tetapi juga dapat membuka peluang kerja sama serta mendorong peningkatan kualitas pengelolaan air bersih berbasis masyarakat.
Bagi KPSPAM Bersekajaya, perhatian dari delegasi luar negeri menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki kekurangan dan memperkuat pelayanan bagi warga Desa Kutajaya.
Kualitas Air Harus Dijaga hingga ke Sambungan Rumah
Selain memperluas cakupan pelayanan, aspek keamanan dan kualitas air juga menjadi perhatian penting dalam pengelolaan Pamsimas Bersekajaya.
Iwan menjelaskan, pada tahap awal pengujian, air di lokasi sumber atau titik tertentu pernah dicoba untuk diminum secara langsung dan tidak menimbulkan keluhan yang diketahui saat itu.
Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa air yang mengalir melalui seluruh jaringan perpipaan hingga ke penampungan atau sambungan rumah selalu aman untuk diminum tanpa pengolahan tambahan.
Pasalnya, kondisi jaringan distribusi, proses penyimpanan, kebersihan penampungan, serta kemungkinan kontaminasi selama perjalanan air perlu menjadi perhatian bersama.
Oleh karena itu, pemeriksaan kualitas air secara berkala dan pemeliharaan jaringan distribusi menjadi langkah penting untuk memastikan air yang diterima masyarakat memenuhi persyaratan kesehatan.
Pengelola juga perlu memastikan bahwa proses desinfeksi berjalan sesuai ketentuan serta hasil pengujian kualitas air mendukung peruntukannya sebagai air minum.
Pamsimas Menjawab Persoalan Akses Air Bersih
Sebelum adanya program Pamsimas, masyarakat Desa Kutajaya menghadapi sejumlah persoalan dalam memperoleh air bersih, khususnya ketika memasuki musim kemarau.
Keterbatasan akses air menyebabkan sebagian warga harus membeli air melalui mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, pertumbuhan jumlah penduduk turut meningkatkan kebutuhan terhadap pelayanan air minum.
Persoalan lainnya adalah jarak sejumlah sumur milik warga yang berdekatan dengan saluran pembuangan air limbah sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran sumber air.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan sarana air bersih bukan sekadar persoalan pembangunan infrastruktur, melainkan juga menyangkut kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, dan keberlanjutan pelayanan dasar.
Kehadiran Pamsimas Bersekajaya menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan tersebut melalui pengelolaan air berbasis masyarakat.
Dengan capaian sekitar 150 sambungan rumah, program ini telah memberikan manfaat bagi ratusan jiwa. Namun, peningkatan kapasitas, pengawasan kualitas air, serta perluasan pelayanan masih menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
Iwan berharap dukungan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat agar kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi secara merata.
"Harapan kami, ke depan semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan akses air bersih. Kami akan terus berupaya memperbaiki pengelolaan yang ada, tetapi tentu dukungan semua pihak sangat dibutuhkan agar pelayanan ini semakin baik," pungkasnya.
Kunjungan delegasi YPIP Malaysia pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama bahwa akses terhadap air bersih dan air minum yang aman merupakan kebutuhan mendasar masyarakat yang harus dijaga melalui pengelolaan profesional, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Reporter : Joker
Redaktur : Usep Suherman

Social Header