Board of Director PT Amerta Indah Otsuka, Sudarmadi Widodo, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan bukan sekadar agenda tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan bagian dari filosofi bisnis yang menempatkan kesehatan lingkungan sebagai fondasi kesehatan masyarakat.
"Kontribusi terhadap kesehatan masyarakat harus dimulai dari kesehatan lingkungan. Karena itu, kami memandang pelestarian kawasan konservasi sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan," ujarnya.
Hubungan PT Amerta Indah Otsuka dengan TNGHS bukanlah hal baru. Sejak tahun 2012 hingga 2019, perusahaan telah menjalankan berbagai program konservasi melalui Program Satu Hati, termasuk kegiatan adopsi lebih dari 28 ribu pohon di kawasan TNGHS dengan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai lebih dari 95 persen.Capaian tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk melangkah lebih jauh. Dalam kerja sama terbaru ini, PT Amerta Indah Otsuka mengalokasikan dana sebesar Rp371 juta untuk periode 2026–2029 guna mendukung pemulihan kawasan konservasi seluas 4,9 hektare di Blok Cisaat.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman pohon endemik seperti puspa dan rasamala, tetapi juga mencakup perlindungan keanekaragaman hayati yang menjadi identitas kawasan TNGHS.Salah satu fokus utama adalah menjaga keberlangsungan habitat satwa kunci seperti Macan Tutul Jawa dan Elang Jawa, dua spesies yang status konservasinya menjadi perhatian serius pemerintah dan pegiat lingkungan.
Selain itu, penguatan pengawasan kawasan juga akan dilakukan melalui patroli rutin guna mencegah gangguan terhadap hutan, termasuk potensi perambahan, perburuan liar, hingga risiko kebencanaan yang dapat mengancam keseimbangan ekosistem.
Namun demikian, konservasi tidak hanya berbicara soal pohon dan satwa. PT Amerta Indah Otsuka menilai keberhasilan pelestarian kawasan hutan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan konservasi.
Karena itu, program kerja sama ini juga diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi dan lingkungan yang melibatkan kelompok masyarakat setempat serta komunitas mitra konservasi.
"Pelestarian hutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hutan yang sehat akan sulit terwujud jika masyarakat di sekitarnya tidak dilibatkan," kata Sudarmadi.
Secara teknis, pada tahap awal program akan dilakukan penanaman sekitar 3.500 pohon di kawasan TNGHS. Seluruh pohon yang ditanam akan dipantau secara berkala melalui sistem adopsi pohon yang selama ini menjadi model konservasi perusahaan.
Monitoring dilakukan bersama komunitas lingkungan, akademisi, dan pihak TNGHS untuk memastikan tingkat keberhasilan tumbuh tetap tinggi sebagaimana capaian program sebelumnya yang mencapai lebih dari 95 persen.
Sudarmadi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menyerahkan tanggung jawab pelestarian lingkungan hanya kepada pemerintah atau perusahaan.
Menurutnya, gerakan menjaga lingkungan harus menjadi gerakan kolektif yang dimulai dari langkah sederhana, seperti menanam pohon di lingkungan masing-masing.
"Menanam satu pohon hari ini berarti meninggalkan warisan kehidupan bagi generasi mendatang. Lingkungan yang sehat adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau dunia usaha," tegasnya.
Kerja sama antara PT Amerta Indah Otsuka dan TNGHS ini menjadi contoh bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat dapat menghadirkan langkah nyata dalam menjaga kawasan konservasi yang selama ini menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati di Pulau Jawa.
Di tengah berbagai ancaman kerusakan lingkungan, komitmen jangka panjang seperti ini menjadi pengingat bahwa pelestarian alam tidak cukup dengan slogan, tetapi harus diwujudkan melalui pendanaan, pengawasan, dan aksi nyata yang berkelanjutan.
Redaktur : Usep Suherman

Social Header