Breaking News

Siswi Berprestasi Kecewa Berat, Jalur SPMB Dinilai Tak Berpihak pada Prestasi Siswa

SUKABUMIVIRAL.COM – Sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA kembali menuai sorotan. Kali ini datang dari Resty Oktaviani, lulusan SMP Negeri 1 Cigombong yang mengaku kecewa dan merasa prestasi yang selama ini diraihnya seolah tidak mendapat penghargaan dalam proses seleksi masuk SMA Negeri.

Resty, warga Kampung Bangkongreang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mengaku telah berjuang keras selama menempuh pendidikan di SMP. Selain memiliki nilai akademik yang tinggi dengan rata-rata mencapai 90,75, ia juga mengoleksi sejumlah prestasi di bidang olahraga. Namun berbagai pencapaian tersebut ternyata belum mampu mengantarkannya lolos ke sekolah negeri yang diharapkan.

Awalnya Resty mendaftar ke SMA Negeri 1 Cigombong melalui jalur prestasi non-akademik. Pada tahap awal, namanya sempat masuk dalam kuota penerimaan. Namun beberapa hari kemudian, posisinya tergeser dan dinyatakan tidak lolos.

"Saya sempat masuk kuota. Tapi beberapa hari kemudian nama saya hilang dari daftar penerimaan. Padahal nilai dan prestasi sudah saya masukkan sesuai ketentuan," ungkap Resty, senin (15/07/2026) 

Kekecewaan semakin bertambah ketika sertifikat Juara 1 tingkat nasional yang dimilikinya tidak dapat digunakan karena dinilai belum memenuhi persyaratan administrasi berupa surat rekomendasi. Akibatnya, ia terpaksa menggunakan sertifikat prestasi lain dengan tingkat penghargaan yang lebih rendah.

Menurutnya, sistem yang hanya mengakomodasi satu sertifikat prestasi membuat banyak capaian siswa tidak dapat menjadi bahan pertimbangan secara utuh.

"Prestasi yang saya punya cukup banyak, tapi yang boleh digunakan hanya satu. Ketika sertifikat juara satu tidak diterima karena alasan administrasi, otomatis peluang saya berkurang," katanya.

Resty mengaku bingung dengan mekanisme seleksi yang berubah-ubah. Setelah gagal di SMA Negeri 1 Cigombong, pilihan sekolahnya bergeser ke SMA Negeri 1 Cicurug. Namun lagi-lagi dirinya tidak berhasil lolos dan akhirnya terlempar ke sekolah lain di wilayah Parungkuda.

Kondisi tersebut membuat dirinya dan keluarga merasa kecewa. Mereka menilai sistem seleksi yang diterapkan saat ini terlalu bergantung pada perhitungan administrasi dan ranking, tanpa memberikan ruang pembuktian kemampuan siswa melalui uji kompetensi atau verifikasi langsung terhadap prestasi yang dimiliki.

"Kalau ada uji kompetensi mungkin lebih adil. Siswa bisa menunjukkan kemampuan sebenarnya, bukan hanya berdasarkan dokumen yang diunggah," ujar salah satu anggota keluarga Resty.

Selain memiliki nilai akademik yang tinggi, Resty tercatat pernah meraih sejumlah prestasi dalam cabang olahraga, di antaranya Juara 1 tingkat nasional pada ajang Legend Fort Ferris, Juara dalam kejuaraan Piala Pangdam Siliwangi, serta berbagai penghargaan lainnya.

Kasus yang dialami Resty menjadi gambaran kegelisahan sebagian masyarakat terhadap pelaksanaan SPMB tahun 2026. Banyak orang tua dan siswa berharap sistem penerimaan sekolah negeri tidak hanya menitikberatkan pada aspek administratif, tetapi juga mampu memberikan penghargaan yang proporsional terhadap kerja keras dan prestasi peserta didik.

Di tengah keterbatasan kuota SMA Negeri di wilayah Cicurug dan sekitarnya, kisah Resty menjadi potret bahwa tidak semua siswa berprestasi memperoleh kesempatan yang sesuai harapan. Pertanyaan yang kini muncul dari masyarakat adalah, apakah sistem SPMB benar-benar telah memberikan ruang yang adil bagi siswa berprestasi, atau justru menyisakan kekecewaan bagi mereka yang selama ini berjuang mengharumkan nama sekolah melalui berbagai prestasi?

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA