Breaking News

SAWAH MENGALAMI KEKERINGAN, PETANI MENJERIT: BANGUNAN IRIGASI DIDUGA TAK BERFUNGSI, UANG NEGARA DIPERTANYAKAN

SUKABUMIVIRAL.COM – Harapan petani untuk mendapatkan pasokan air yang memadai justru berubah menjadi kekecewaan. Puluhan hektare sawah di Kampung Cidahu Pasar, Desa Tangkil, Kabupaten Sukabumi, mengalami kekeringan hingga mengakibatkan lahan tidak dapat ditanami. Kondisi tersebut diduga dipicu tidak berfungsinya bangunan irigasi yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah.

Seorang petani yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kondisi ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, sejak puluhan tahun lalu aliran air dari Citaman tidak pernah mengalami kekeringan, bahkan saat musim kemarau.

"Sejak tahun 1983 saya bertani di sini, air Citaman tidak pernah kekurangan. Setelah irigasi dibangun justru air hilang. Petani malah dirugikan. Selama pembangunan kami menunggu berbulan-bulan, tapi hasilnya air tidak mengalir," ungkapnya.

Ia menilai persoalan bukan berada pada saluran irigasi, melainkan pada titik sumber atau bangunan pengambilan air yang diduga tidak direncanakan dengan tepat.

"Salurannya memang bagus, tetapi kalau sumber airnya tidak dibenahi, bagaimana air bisa naik ke sawah? Akhirnya air malah lari ke daerah lain," ujarnya.

Akibatnya, sekitar 30 hektare lahan persawahan terdampak kekeringan. Bibit padi yang seharusnya sudah dipindahkan ke sawah pada usia sekitar 20 hari kini telah berumur lebih dari 40 hari tanpa bisa ditanam karena lahan kering.

"Kami sudah menyemai bibit, tetapi tidak bisa ditanam karena tidak ada air. Hasil panen tahun ini nol. Biasanya satu musim bisa menghasilkan tiga sampai empat ton gabah. Sekarang jangankan panen, menanam saja tidak bisa. Akhirnya kami harus membeli beras," katanya.

Petani juga mengaku tidak pernah menerima sosialisasi maupun kebijakan kompensasi ketika pembangunan irigasi berlangsung. Menurutnya, seluruh kerugian harus ditanggung sendiri oleh masyarakat.

"Seharusnya ada kebijakan ketika petani tidak bisa menanam akibat pembangunan. Faktanya tidak ada sama sekali. Kami hanya disuruh menanggung kerugian," tegasnya.

Ia membantah anggapan bahwa kekeringan terjadi semata-mata akibat musim kemarau.

"Kalau hanya alasan musim kemarau, dulu juga kemarau, tetapi Citaman tidak pernah kering. Baru sekarang setelah ada pembangunan irigasi justru air hilang," katanya.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai kualitas perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek irigasi. Bangunan yang seharusnya menjadi solusi bagi sektor pertanian justru diduga menjadi penyebab terganggunya pasokan air bagi petani.

Jika benar proyek yang menelan anggaran negara tersebut tidak mampu mengalirkan air ke lahan pertanian, maka pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, serta manfaat nyata yang diterima masyarakat. Infrastruktur pertanian seharusnya meningkatkan produktivitas, bukan malah menambah beban petani.

Para petani berharap pemerintah daerah maupun instansi teknis segera turun ke lapangan untuk mengevaluasi bangunan irigasi tersebut dan memperbaiki titik sumber air Citaman agar aliran kembali normal seperti semula.

"Kami tidak meminta macam-macam. Kami hanya ingin air kembali mengalir agar bisa menanam padi lagi. Kalau tidak, untuk apa pemerintah menghabiskan anggaran besar kalau manfaatnya tidak dirasakan masyarakat?" tutupnya.

Redaktur: Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA