SUKABUMIVIRAL.COM – Situ Citaman yang berada di Kampung Cidahu Pasar, Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini menjadi potret miris sebuah aset masyarakat yang terbengkalai dan belum mendapatkan penanganan serius.
Bukan sekadar genangan air atau lokasi yang dapat dipandang sebelah mata, Situ Citaman memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat, khususnya para petani. Aliran air yang berasal dari kawasan kaki Gunung Salak selama ini dimanfaatkan warga sebagai sumber pengairan melalui jaringan irigasi lokal untuk mengairi lahan pertanian.
Namun kini, fungsi vital tersebut terancam hilang setelah kondisi Situ Citaman dilaporkan jebol dan belum diperbaiki selama kurang lebih dua tahun.
Salah seorang warga menuturkan, Situ Citaman bukan merupakan danau atau telaga untuk kepentingan wisata umum.
Keberadaannya justru memiliki fungsi yang jauh lebih penting karena menjadi bagian dari sistem pengairan yang menopang aktivitas pertanian masyarakat.
“Aliran air di wilayah ini berasal dari kawasan kaki Gunung Salak melalui sumber mata air yang dimanfaatkan warga untuk mengairi sawah melalui saluran irigasi lokal,” ujarnya, Minggu (30/08/2026).
Menurutnya, para petani selama ini sangat bergantung terhadap ketersediaan air dari Situ Citaman. Namun sejak kondisinya jebol, dampaknya mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Kurang lebih sudah dua tahun Situ Citaman ini jebol, sehingga dampaknya memang sangat terasa bagi petani, apalagi saat menghadapi musim kemarau seperti sekarang ini,” ungkapnya.
Kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Sebab persoalan irigasi bukan hanya berbicara mengenai infrastruktur semata, melainkan menyangkut keberlangsungan mata pencaharian masyarakat serta ketahanan pangan di tingkat lokal.
Ironisnya, di tengah berbagai program pembangunan infrastruktur, masih terdapat sumber pengairan masyarakat yang telah rusak bertahun-tahun tanpa adanya kepastian penanganan. Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus bertahan dan menunggu?
Warga menilai, pembangunan jaringan irigasi dengan anggaran besar akan menjadi sia-sia apabila sumber atau penampung air yang menjadi penopangnya justru dibiarkan rusak.
“Berapa hektare sawah yang membutuhkan aliran air dari Situ Citaman? Percuma saja jaringan irigasi dibangun dengan dana miliaran kalau tidak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi kritik keras terhadap pola pembangunan yang dinilai tidak boleh hanya berorientasi pada proyek dan serapan anggaran, tetapi harus benar-benar melihat kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Jika Situ Citaman memang menjadi salah satu sumber penting bagi pengairan pertanian warga, maka sudah seharusnya pemerintah daerah segera melakukan pendataan, kajian teknis, serta menentukan langkah penanganan yang jelas.
Jangan sampai pemerintah baru hadir setelah sawah-sawah mengalami gagal panen atau ketika para petani sudah kehilangan sumber penghidupannya.
Pemerintah Desa Tangkil bersama masyarakat kini membutuhkan dukungan dan solusi konkret untuk membangun kembali Situ Citaman. Persoalan ini tidak seharusnya dibiarkan menjadi beban masyarakat semata.
Pemerintah daerah harus peka terhadap kondisi masyarakat. Keluhan petani bukan sekadar suara dari pinggiran yang bisa diabaikan. Ketika sumber air rusak dan pertanian terancam, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk hadir memberikan solusi.
Situ Citaman bukan hanya persoalan bangunan yang jebol.
Di baliknya terdapat kehidupan para petani, lahan pertanian, kebutuhan pangan, serta harapan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada ketersediaan air.
Kini publik menunggu, apakah pemerintah daerah akan segera turun tangan melakukan perbaikan, atau kembali membiarkan aset masyarakat tersebut terbengkalai hingga kerusakan semakin parah.
Kepekaan pemerintah tidak cukup hanya disampaikan dalam pidato. Kepekaan harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Redaktur: Usep Suherman

Social Header