Breaking News

Warga Desa Nanggerang Protes Krisis Air: "Masyarakat Bayar, Tapi Sudah Dua Minggu Tidak Mengalir"


SUKABUMIVIRAL.COM – Puluhan warga Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, menyampaikan keluhan terkait krisis air bersih yang mereka alami. Mereka mendatangi pemerintah desa untuk menyuarakan aspirasi dan meminta adanya solusi nyata atas persoalan yang dinilai telah mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.

Salah seorang tokoh masyarakat, Suminta, menjelaskan bahwa sumber air yang selama ini dimanfaatkan warga berasal dari kawasan pegunungan dengan debit yang terbatas. Menurutnya, selama ini masyarakat juga ikut bergotong royong membantu biaya perawatan jaringan air.

"Air memang berasal dari gunung, tetapi debitnya kecil. Warga juga ikut membantu biaya pengelolaannya. Sekarang jaringan sedang diperbaiki, tetapi koordinasi antara pengelola, pemerintah desa, serta RT dan RW dinilai masih kurang, sehingga masyarakat merasa dirugikan," ujar Suminta, Jum'at (10/07/2026). 

Ia mengungkapkan bahwa pada masa sebelumnya distribusi air berjalan relatif baik karena aliran langsung dibagi kepada warga dan penggunaan dipantau melalui meteran. Namun belakangan, menurutnya, muncul persoalan karena ada pemanfaatan yang dinilai tidak lagi tertib.

"Dulu pembagiannya jelas, semua menggunakan meteran. Sekarang ada yang mengambil air tanpa melalui meteran. Di sinilah seharusnya pengelola lebih tegas agar tidak menimbulkan kecemburuan di masyarakat," katanya.

Suminta menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan warga saat ini adalah kepastian ketersediaan air bersih. Ia menyebut kondisi geografis di wilayah tersebut membuat warga kesulitan mendapatkan air tanah sehingga sumur gali bukan menjadi solusi.

"Di sini sedang krisis air. Membuat sumur sangat sulit karena tanahnya kering. Harapan masyarakat sederhana, bagaimana air tetap tersedia untuk kebutuhan sehari-hari," ucapnya.

Terkait adanya informasi mengenai pemanfaatan air untuk kebutuhan perusahaan, Suminta mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun ia menilai apabila memang ada pemanfaatan oleh pihak lain, seharusnya dilakukan secara terbuka dan dikomunikasikan kepada masyarakat.

"Kalau memang dipakai untuk perusahaan atau kepentingan lain, saya tidak tahu. Tetapi yang penting harus ada koordinasi dengan masyarakat. Kalau memang harus berbagi, silakan diatur jadwalnya. Jangan sampai masyarakat sampai tiga hari tidak mendapatkan air," tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sumur bor yang berada di depan Kantor Desa selama ini hanya difungsikan ketika kondisi darurat. Menurutnya, fasilitas tersebut dibangun sebagai cadangan apabila pasokan dari sumber mata air pegunungan mengalami gangguan.

Selain itu, ia menyebut bak penampungan lama sudah tidak lagi berfungsi sehingga diperlukan pembangunan sistem penampungan yang lebih baik agar distribusi air tetap berjalan ketika terjadi kerusakan jaringan.

Sementara itu, warga lainnya, Sinta, mengatakan aksi penyampaian aspirasi tersebut dilakukan secara musyawarah, bukan untuk mencari konflik.

"Kami datang untuk bermusyawarah. Kami ingin ketika ada kendala dari sumber utama, masyarakat masih memiliki cadangan air. Kami bersyukur sekarang sudah ada fasilitas sementara, tetapi kami ingin solusi yang benar-benar nyata," ujarnya.

Menurut Sinta, masyarakat menginginkan adanya bak penampungan air sehingga ketika aliran dari pegunungan terganggu, warga tetap memiliki persediaan air bersih.

"Kami berharap ada penampungan air. Jadi ketika sumber dari gunung mengalami kendala, masyarakat tidak langsung kesulitan. Air adalah kebutuhan pokok, apalagi mayoritas warga membutuhkan air untuk aktivitas sehari-hari dan beribadah," katanya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tanah di wilayah tersebut sangat kering sehingga pembuatan sumur tidak menjadi solusi yang efektif.

"Bukan kami tidak mau membuat sumur, tetapi kondisi tanah di wilayah kami memang kering dan sulit mengeluarkan air. Karena itu kami berharap pemerintah segera menghadirkan solusi yang permanen," ungkapnya.

Sinta menegaskan bahwa aspirasi tersebut bukan hanya mewakili dirinya, melainkan seluruh warga di wilayah RT 01 hingga RT 03 yang sama-sama terdampak krisis air bersih.

Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat berharap Pemerintah Desa Nanggerang bersama pengelola jaringan air segera melakukan pembenahan sistem distribusi, meningkatkan koordinasi dengan warga, serta memberikan penjelasan secara terbuka mengenai tata kelola pemanfaatan sumber air agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Sukabumiviral.com akan meminta konfirmasi terkait masalah pengelolaan air bersih serta solusi apa yang akan dilakukan pihak Pemdes Nanggerang mengenai masalah ini. 

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA