Breaking News

JA Soebagiyo Kritisi Isu Keretakan di Tubuh DPD Partai Golkar Kabupaten Sukabumi, Ujian Soliditas Golkar

SUKABUMIVIRAL.COM – Dinamika politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Kabupaten Sukabumi mulai menjadi sorotan. Berakhirnya masa kepemimpinan Marwan Hamami dinilai menjadi momentum penting bagi proses regenerasi dan konsolidasi organisasi. Namun, di tengah proses tersebut, muncul berbagai isu yang disebut-sebut memicu ketegangan di internal partai.

Aktivis Pergerakan Cicurug, JA Soebagiyo, menilai bahwa proses pergantian kepemimpinan semestinya menjadi ruang demokrasi yang sehat bagi seluruh kader, bukan justru melahirkan polarisasi akibat kepentingan politik kelompok tertentu.

Menurut JA Soebagiyo, berkembangnya wacana aklamasi sebelum seluruh tahapan demokrasi internal berjalan berpotensi menimbulkan persepsi bahwa ruang kompetisi kader menjadi semakin sempit.

"Musda seharusnya menjadi panggung demokrasi kader. Semua kader yang memiliki kapasitas, integritas, dan rekam jejak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk maju. Jangan sampai demokrasi internal kehilangan substansinya hanya karena adanya upaya menggiring opini menuju satu nama," ujar JA Soebagiyo kepada SUKABUMIVIRAL.COM.Kamis (06/08/2026) 

Ia berpandangan bahwa kekuatan Partai Golkar selama ini lahir dari tradisi musyawarah, konsolidasi, dan kompetisi yang sehat. Karena itu, setiap proses regenerasi kepemimpinan harus dijalankan secara terbuka, objektif, dan mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

JA Soebagiyo juga menyoroti munculnya berbagai klaim dukungan terhadap figur tertentu yang beredar di ruang publik. Menurutnya, klaim tersebut perlu dibuktikan melalui mekanisme organisasi yang sah, bukan sekadar membangun persepsi di tengah kader maupun masyarakat.

"Kalau memang memiliki dukungan mayoritas, buktikan melalui mekanisme Musda. Tidak perlu ada penggiringan opini yang justru berpotensi memecah soliditas partai. Demokrasi yang sehat akan menghasilkan pemimpin yang kuat dan memiliki legitimasi," tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai masa transisi pasca kepemimpinan Marwan Hamami merupakan ujian penting bagi kedewasaan politik seluruh kader Golkar Kabupaten Sukabumi. 

Momentum tersebut semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi, bukan mempertajam sekat-sekat kepentingan.

Menurutnya, apabila dinamika internal tidak dikelola secara arif dan demokratis, maka potensi terjadinya fragmentasi di tubuh partai akan semakin besar. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi soliditas organisasi dalam menghadapi agenda-agenda politik mendatang.

"Golkar adalah partai besar yang memiliki sejarah panjang dalam membangun demokrasi. Jangan sampai proses memilih pemimpin justru meninggalkan luka politik di internal. Siapa pun yang terpilih nantinya harus lahir dari proses yang jujur, terbuka, dan mampu diterima seluruh kader," katanya.

JA Soebagiyo berharap seluruh pengurus, fungsionaris, dan kader Partai Golkar Kabupaten Sukabumi tetap mengedepankan etika politik, menghormati mekanisme organisasi, serta menjaga persatuan menjelang pelaksanaan Musda.

"Soliditas adalah modal utama Partai Golkar. Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi persatuan organisasi harus tetap menjadi prioritas. Musda bukan sekadar memilih ketua, melainkan menentukan arah masa depan Partai Golkar Kabupaten Sukabumi," pungkasnya.

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA