Breaking News

Ngeri!!! Kekeringan di Cicurug, Bak Ayam Mati di Lumbung Padi

SUKABUMIVIRAL.COM – Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, yang dahulu dikenal sebagai kawasan agraris nan subur, hijau dan memiliki sumber air melimpah, kini menghadapi ironi yang semakin mengkhawatirkan. Wilayah yang berada di kaki Gunung Salak dan selama bertahun-tahun dikenal memiliki tanah subur serta cadangan air melimpah, kini mulai menghadapi ancaman kekeringan dan krisis air bersih.

Ironisnya, warga seperti hidup di tengah lumbung air, tetapi kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai arah pembangunan dan perubahan tata ruang di wilayah Kecamatan Cicurug.

Industrialisasi yang terus berkembang memang membawa investasi dan aktivitas ekonomi, namun di sisi lain muncul kekhawatiran mengenai dampak lingkungan yang harus ditanggung masyarakat dalam jangka panjang.

Kekeringan sendiri dapat dipicu oleh rendahnya curah hujan dalam jangka waktu tertentu. Namun persoalan lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada faktor alam semata. Minimnya daerah resapan air akibat alih fungsi lahan, berkurangnya ruang terbuka hijau serta hilangnya pepohonan yang berfungsi menjaga cadangan air tanah patut menjadi perhatian serius.

Tokoh Cicurug yang juga merupakan Tim 11, JA Soebagiyo, menilai perubahan tata ruang yang terjadi selama era globalisasi telah membawa dampak besar terhadap kondisi lingkungan di wilayah Kecamatan Cicurug.

"Keberadaan alih fungsi lahan ini merupakan salah satu faktor yang merusak lingkungan, karena kebijakan yang terlalu dipaksakan dan dampaknya baru terasa hari ini," ujar Soebagiyo kepada Sukabumiviral.com, Kamis (27/08/2026).

Menurutnya, secara geografis sebagian wilayah Kecamatan Cicurug merupakan dataran serta lereng atau punggung bukit di kawasan kaki Gunung Salak. Sebagian kawasan tersebut pada masa lalu dimanfaatkan sebagai lahan persawahan dan perkebunan yang turut berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan.

Namun, wajah Cicurug kini terus mengalami perubahan.

"Namun kini berdiri pabrik-pabrik besar yang memerlukan hektaran lahan," ungkapnya.

Soebagiyo menjelaskan, tanah di wilayah Cicurug selama ini dikenal memiliki tingkat kesuburan tinggi karena dipengaruhi oleh material vulkanik Gunung Salak dan kondisi alam yang sebelumnya memiliki ketersediaan air cukup melimpah.

Namun saat ini, menurutnya, berkurangnya debit air tanah dan menurunnya ketersediaan air pada sumur-sumur warga mulai menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat, terutama ketika musim kemarau berlangsung.

"Kini berkurangnya debit air tanah dan sumur warga dipicu oleh musim kemarau panjang serta alih fungsi lahan resapan air di sekitar kawasan kaki Gunung Salak," jelasnya.

Sejumlah wilayah di Kecamatan Cicurug, seperti Desa Nanggerang, Desa Benda dan Desa Kutajaya, disebut mulai menghadapi persoalan ketersediaan air bersih. Warga di sejumlah titik dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi) bersama instansi terkait pun telah melakukan penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.

"BPBD Kabupaten Sukabumi bersama instansi terkait turun tangan mengirimkan serta menyalurkan ribuan liter bantuan air bersih ke titik-titik lokasi yang terdampak kekeringan di Cicurug," pungkasnya.

Namun bantuan air bersih tentu bukan jawaban jangka panjang atas persoalan yang semakin kompleks. Distribusi air mungkin mampu meredakan penderitaan warga untuk sementara, tetapi tidak serta-merta menjawab pertanyaan paling mendasar: mengapa wilayah yang dahulu dikenal kaya air kini justru mengalami krisis air?

Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan seluruh pemangku kebijakan perlu menjadikan persoalan ini sebagai alarm keras. Evaluasi terhadap tata ruang, alih fungsi lahan, keberadaan kawasan industri, perlindungan daerah resapan hingga keberlangsungan sumber air tanah harus dilakukan secara serius dan terbuka.

Jangan sampai pembangunan hanya diukur dari banyaknya bangunan industri yang berdiri dan besarnya nilai investasi yang masuk, sementara masyarakat justru harus mengantre air bersih di tanahnya sendiri.

Cicurug tidak boleh menjadi contoh tragis sebuah wilayah yang kaya sumber daya, tetapi miskin akses terhadap kebutuhan dasar. Jangan biarkan warga Cicurug seperti ayam mati di lumbung padi—dikelilingi potensi air, tetapi justru dilanda kekeringan.

Sebab ketika mata air mulai mengering, sumur warga semakin surut dan ruang resapan terus menghilang, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kebutuhan air hari ini, melainkan masa depan lingkungan dan kehidupan generasi Cicurug berikutnya.

Redaktur: Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA