Breaking News

Gigih Memperjuangkan Sang Kakek, Hj. Tito Bertekad KPH Djoyokoesumo Raih Gelar Pahlawan Nasional

SUKABUMIVIRAL.COM – Perjuangan panjang dan penuh kegigihan terus dilakukan Raden Ayu Hj. Ahdiyati Djoyokoesumo atau yang akrab disapa Hj. Tito untuk memperjuangkan sang kakek, KPH Djoyokoesumo, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Eyang Santri Girijaya, agar memperoleh pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional.

Bagi Hj. Tito, perjuangan tersebut bukan sekadar memperjuangkan nama besar keluarga. Lebih dari itu, ia ingin membuka kembali lembaran sejarah yang selama bertahun-tahun belum mendapatkan ruang pengakuan yang layak.

Berbagai dokumen, catatan keluarga, kesaksian sejarah, hingga penelitian lapangan kini dikumpulkan untuk memperkuat jejak perjuangan KPH Djoyokoesumo dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Perjuangan itu kemudian mendapatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui pembentukan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi.

Hasil penelitian TP2GD mengungkap sejumlah fakta sejarah yang dinilai memiliki arti penting dalam memperkuat pengusulan KPH Djoyokoesumo sebagai Pahlawan Nasional.

Jejak Telik Sandi dalam Perang Diponegoro

Salah satu temuan penting adalah keterlibatan KPH Djoyokoesumo dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830).

Menurut Hj. Tito, berdasarkan penelitian TP2GD, KPH Djoyokoesumo teridentifikasi sebagai salah satu Telik Sandi atau intelijen yang membantu perjuangan Pangeran Diponegoro.

"Beliau adalah bangsawan Mangkunegaran Surakarta. Karena dicurigai membantu perjuangan Pangeran Diponegoro, beliau menjadi buronan Belanda dan terpaksa meninggalkan lingkungan Mangkunegaran. Saat berada di Jawa Barat, beliau kemudian menggunakan nama Santri," ungkap Hj. Tito, Senin (07/09/2026).

KPH Djoyokoesumo kemudian menjalani perjalanan panjang di wilayah Jawa Barat. Selama puluhan tahun, ia disebut membangun jaringan perjuangan sekaligus menghimpun tokoh-tokoh yang memiliki semangat melawan penjajahan.

Penelusuran sejarah TP2GD bahkan menemukan nama KPH Djoyokoesumo dalam daftar pejuang yang berkaitan dengan perjuangan Diponegoro.

Pada 21 April 2026, TP2GD Kabupaten Sukabumi melakukan penelusuran ke Museum Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta. Tim juga diterima oleh Korem 072/Pamungkas serta Patrapadi atau Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro.

"TP2GD menemukan bahwa KPH Djoyokoesumo tercatat sebagai Telik Sandi atau intelijen Perang Diponegoro. Beliau berada pada nomor urut 53 dari 388 orang yang membantu perjuangan Diponegoro," jelas Hj. Tito.

Temuan tersebut menjadi salah satu dokumen penting dalam proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Bukan Sekadar Ulama, Disebut Menjadi Guru Tokoh Pergerakan

Jejak perjuangan KPH Djoyokoesumo tidak berhenti pada Perang Diponegoro.

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Kiai Santri Girijaya disebut memiliki peran dalam membentuk dan mendidik sejumlah tokoh yang kemudian terlibat dalam pergerakan nasional.

Salah satu nama yang disebut adalah Dr. Soetomo, tokoh pendiri Budi Utomo yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting Kebangkitan Nasional.

"Beliau adalah guru besar dari tokoh-tokoh pergerakan. Salah satunya Dr. Soetomo yang kemudian dikenal sebagai Bapak Kebangkitan Nasional," ujar Hj. Tito.

Selain Dr. Soetomo, Hj. Tito juga menyebut sejumlah tokoh lain yang memiliki hubungan keilmuan dengan Kiai Santri Girijaya.

Di antaranya Ka I'in bin Ka I'ah, yang menurut riwayat yang disampaikan keluarga memiliki keterkaitan dengan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial, termasuk peristiwa Teluk Naga pada 1924.

Disebut Mendukung Gerakan Sumpah Pemuda

Kiprah KPH Djoyokoesumo juga disebut tidak terlepas dari tumbuhnya semangat nasionalisme menjelang lahirnya Indonesia merdeka.

Menurut catatan keluarga, Kiai Santri Girijaya pernah memberikan dukungan dana sebesar 1.000 gulden untuk kegiatan yang berkaitan dengan Sumpah Pemuda 1928, dari total kebutuhan biaya yang disebut mencapai 1.500 gulden.

Bagi keluarga, catatan tersebut menjadi salah satu indikasi kuat bahwa Kiai Santri Girijaya tidak hanya bergerak melalui jalur keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap tumbuhnya kesadaran kebangsaan.

Jejak Hubungan dengan Tokoh BPUPKI dan Lingkaran Soekarno

Fakta lain yang menjadi bagian dari penelusuran sejarah adalah hubungan KPH Djoyokoesumo dengan Raden Mas Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, tokoh yang kemudian tercatat sebagai anggota BPUPKI dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Kabinet pada masa Presiden Soekarno.

Menurut Hj. Tito, keberadaan Pringgodigdo di Girijaya tercatat dalam sebuah buku yang ditulis pada 2 Mei 1939.

Catatan tersebut dinilai keluarga menjadi salah satu bukti adanya hubungan historis antara Kiai Santri Girijaya dengan jaringan tokoh pergerakan nasional menjelang kemerdekaan.

Tak hanya itu, keluarga juga memiliki riwayat bahwa Ir. Soekarno pernah diperkenalkan kepada Kiai Santri Girijaya melalui jalur pergerakan nasional.

"Menurut riwayat keluarga, Bung Karno pernah dibawa oleh HOS Tjokroaminoto ke Girijaya untuk bertemu dan belajar kepada Kiai Santri," tutur Hj. Tito.

Riwayat tersebut kini menjadi bagian dari cerita sejarah keluarga yang terus ditelusuri dan dikaji untuk mendapatkan pembuktian historis yang lebih kuat.

Ulama Tasawuf dan Pengamal Tarekat Syattariyah

KPH Djoyokoesumo juga dikenal bukan hanya sebagai tokoh perjuangan, tetapi sebagai ulama yang memiliki pengaruh dalam bidang keagamaan dan tasawuf.

Menurut Hj. Tito, Kiai Santri Girijaya merupakan pengamal Tarekat Syattariyah dengan sanad keilmuan yang disebut tersambung kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, salah satu ulama besar Nusantara.

Jejak keilmuan tersebut semakin memperlihatkan bahwa perjuangan KPH Djoyokoesumo berlangsung melalui berbagai jalur, mulai dari pendidikan keagamaan, jaringan ulama, hingga hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan.

Perjuangan Keluarga Dimulai dari Pertanyaan Sederhana

Perjuangan untuk mengusulkan KPH Djoyokoesumo sebagai Pahlawan Nasional berawal dari kegelisahan Hj. Tito setelah melihat sejumlah murid Kiai Santri Girijaya mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.

Pertanyaan sederhana kemudian berubah menjadi perjuangan panjang.

"Karena murid-murid beliau sudah menjadi pahlawan nasional, saya berpikir mengapa guru mereka tidak diajukan sebagai Pahlawan Nasional," kata Hj. Tito.

Sejak 2023, keluarga mulai mengajukan usulan kepada Kementerian Sosial melalui mekanisme pengajuan gelar Pahlawan Nasional.

Perjuangan tersebut kemudian mendapatkan perhatian Pemerintah Kabupaten Sukabumi hingga akhirnya dibentuk TP2GD Kabupaten Sukabumi berdasarkan Surat Keputusan Bupati pada 2025.

Tim melakukan penelitian, pengumpulan dokumen, verifikasi, serta penelusuran berbagai lokasi yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah KPH Djoyokoesumo.

TP2GD Nyatakan Pengkajian Telah Paripurna

Setelah melalui proses penelitian yang panjang, Hj. Tito menyebut TP2GD Kabupaten Sukabumi telah menyelesaikan tugas pengkajian terhadap KPH Djoyokoesumo.

Hasil penelitian tersebut kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi pada 21 Mei 2026.

"TP2GD sudah paripurna meneliti KPH Djoyokoesumo untuk menjadi Pahlawan Nasional. Berkasnya sudah diserahkan kepada Pemda dan saat ini sedang dipelajari," ujarnya.

Kini perjuangan memasuki tahap berikutnya.

Berkas tersebut berada dalam proses kajian dan pembahasan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi sebelum melanjutkan tahapan pengusulan sesuai mekanisme pemberian gelar Pahlawan Nasional.

Gigih Menjaga Warisan Sejarah
Hj. Tito menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi, khususnya Bupati Sukabumi, yang telah memfasilitasi pembentukan TP2GD dan mendukung proses penelitian sejarah tersebut.

Namun bagi Hj. Tito, perjuangan belum selesai.

Ia berharap seluruh bukti sejarah yang telah dikumpulkan dapat dikaji secara objektif dan komprehensif sehingga negara dapat memberikan penghargaan yang layak terhadap jasa KPH Djoyokoesumo.

"Mudah-mudahan perjuangan kakek kami dapat dihargai dan mendapat pengakuan yang layak dari negara," pungkasnya.

Perjuangan Hj. Tito menjadi gambaran bagaimana sebuah keluarga berusaha menjaga ingatan sejarah agar tidak hilang ditelan zaman.

Kini, nama KPH Djoyokoesumo atau Eyang Santri Girijaya kembali diperbincangkan. Bukan hanya sebagai sosok dalam sejarah keluarga, tetapi sebagai tokoh yang tengah diperjuangkan untuk memperoleh pengakuan tertinggi negara melalui gelar Pahlawan Nasional.

Perjalanan menuju pengakuan tersebut masih panjang. Namun satu hal telah dimulai: membuka kembali sejarah, mengumpulkan bukti, dan memperjuangkan agar jasa seorang tokoh tidak terlupakan ( Djas Merah) 

Redaktur: Usep Suherman



© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA