Breaking News

Hilangnya Pohon-Pohon Rindang, Hilang Pula Sumber Daya Air dan Udara: Rasakan Dampaknya!

SUKABUMIVIRAL.COM – Ketika pohon-pohon rindang ditebang satu demi satu, yang sebenarnya hilang bukan sekadar batang dan daun. Lebih jauh, masyarakat sedang kehilangan salah satu benteng alami yang berperan penting menjaga kualitas udara, keseimbangan suhu, ketersediaan air, serta keberlangsungan ekosistem.

Perubahan iklim yang semakin nyata seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, degradasi lingkungan, hingga berkurangnya tutupan vegetasi merupakan rangkaian persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari tekanan aktivitas manusia terhadap alam.

Tokoh masyarakat Cicurug, JA Soebagiyo, menilai persoalan hilangnya pohon-pohon rindang tidak boleh dipandang sebagai perkara sepele, terlebih jika terjadi secara masif akibat penebangan, pembangunan, penataan kawasan, maupun alih fungsi lahan.

Menurutnya, air dan udara memang merupakan sumber daya alam yang memiliki mekanisme alami untuk memperbarui dirinya melalui siklus ekologis. Namun, kemampuan alam tersebut memiliki batas ketika tekanan dan pencemaran akibat aktivitas manusia semakin besar.

Meskipun dapat memperbarui diri, kualitas air dan udara bisa menurun jika tercemar oleh polusi atau aktivitas manusia yang merusak lingkungan,” ujar JA Soebagiyo kepada SUKABUMIVIRAL.COM, Jumat (4/9/2026).

Ia menegaskan, hilangnya pohon-pohon besar dan rindang, baik di kawasan perkotaan maupun wilayah yang memiliki fungsi ekologis, dapat memberikan dampak langsung terhadap kondisi lingkungan.

Penebangan pohon, pembangunan infrastruktur, penataan kawasan, pelebaran jalan, hingga alih fungsi lahan untuk kepentingan komersial dinilai perlu dikaji secara serius agar tidak mengorbankan fungsi ekologis yang selama ini diberikan secara gratis oleh alam.

Pohon Ditebang, Suhu Naik, Kualitas Udara Menurun

JA Soebagiyo menyoroti fenomena hilangnya pohon pelindung di sepanjang jalan maupun kawasan permukiman. Menurutnya, pohon rindang memiliki fungsi penting sebagai peneduh, penyerap karbon, penyaring polutan, sekaligus membantu menjaga kelembapan dan suhu lingkungan.

Ia mempertanyakan lemahnya pengawasan serta ketegasan terhadap aktivitas yang berpotensi menghilangkan pohon pelindung.

Sanksi yang tidak tegas membuat pelanggaran penebangan pohon pelindung kota seolah dianggap biasa. Atau memang ada unsur kesengajaan dalam penataan kota sehingga sumber daya alam harus dikorbankan?” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan dan penataan wilayah tidak seharusnya selalu berujung pada penghilangan vegetasi. Pemerintah justru dituntut mampu menghadirkan pembangunan yang berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.

Sebab, ketika pohon-pohon besar ditebang untuk pelebaran jalan, pembangunan infrastruktur, kepentingan komersial maupun alasan keamanan, masyarakat di sekitar kawasan tersebut pada akhirnya ikut menerima konsekuensinya.

Ketika pohon-pohon besar ditebang, baik untuk pelebaran jalan, pembangunan infrastruktur maupun karena alasan keamanan, dampak negatifnya kini sangat langsung terasa di lingkungan sekitarnya,” katanya.

Jangan Tunggu Bencana Baru Bertindak

Hilangnya pohon rindang di kawasan perkotaan juga berpotensi memperkuat fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan, ketika kawasan yang minim vegetasi menjadi lebih panas dibandingkan wilayah yang masih memiliki banyak tutupan pohon.

Jika persoalan tersebut terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin masyarakat akan menghadapi lingkungan yang semakin panas, kualitas udara yang semakin buruk, berkurangnya daya resap tanah, serta meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan sumber daya air.

Ironisnya, kerusakan ekologis sering kali baru menjadi perhatian ketika dampaknya sudah terasa langsung oleh masyarakat
.
Karena itu, pemerintah daerah jangan hanya sibuk mengejar pembangunan fisik, tetapi juga harus memastikan setiap kebijakan pembangunan memiliki pertimbangan lingkungan yang kuat.

Pohon bukan penghalang pembangunan. Pohon adalah bagian dari infrastruktur kehidupan.

Pemerintah harus mulai melakukan inventarisasi pohon, memperketat pengawasan terhadap penebangan, memastikan kewajiban penanaman kembali, serta melakukan penghijauan secara terukur di kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi.

Jangan sampai pembangunan hari ini justru meninggalkan persoalan ekologis bagi generasi mendatang.

Ketika pohon hilang, suhu meningkat. Ketika hutan berkurang, air terancam. Ketika udara tercemar, kesehatan masyarakat dipertaruhkan.

Ekspansi dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa pengendalian yang kuat merupakan salah satu ancaman serius terhadap keseimbangan lingkungan.

Kini pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah akan bertindak sebelum kerusakan semakin parah, atau masyarakat harus menunggu bencana datang untuk membuktikan bahwa alam sudah lama memberi peringatan?

Redaktur : Usep Suherman
© Copyright 2024 - SUKABUMI VIRAL | MENGHUBUNGKAN ANDA DENGAN INFORMASI MELALUI SUDUT BERITA